Rabu, 17 Februari 2010

Dewa Ruci



Assalamualaikum, Haloo, Salam sejahtera

Begini nih kalo nonton tv cuman seminggu sekali, gak update !!. Banyak informasi hanya didapat dari nge net di ponsel. Dan selalu dua hal : Pertama, saya tidak melahap semua informasi dan ini saya syukuri sekali, karena dengan ngenet saja pun sudah cukup tahu perkembangan dunia. Ngenet di ponsel juga berarti saya bisa memilih-milih informasi yang ingin saya ketahui saja. Yang kedua, nah itu tadi tidak update alias agak gak mudeng, sering juga yang penting-penting terlewatkan. Tapi ya sudahlah, saya pikir too much information juga bisa mempengaruhi pikiran. Bener gak ?.

Dan memang luar biasa kasus-kasus yang ada sekarang, kalo gak bikin ngeri, eneg, geleng-geleng kepala, sampe yang akan mengelus dada sambil istighfar.

TV cuman buat nonton wayang kulit dan kartun. Dan sudah kebiasaan. Mungkin karena ayah saya, yang "keranjingan" nonton lakon-lakon wayang tersebut, beliau bahkan akan bela-belain bangun tengah malam, untuk sekedar melihat siapa dalang nya. Dan saya pun biasanya akan ikutan nonton. Bukan "keranjingan" tapi VOLUME nya itu lho ! mau ngga mau mendingan nonton sekalian.. hehe. Oke ini dia.

Malam itu lakon nya adalah DEWA RUCI. Tulisan ini juga saya sarikan dari berbagai sumber.

Kita mulai dari sosok bernama Bima.

Dari keenam putra Kunti Nalibrata (Adipati Karna dihitung), Bima adalah sesosok kesatria berbadan besar. Bima lahir dari hubungan Kunti dan Dewa Bayu. Sejak kecil hingga dewasanya dia memang istimewa, sering digambarkan sebagai tokoh yang kuat, seseorang yang kasar dan menakutkan bagi musuh. Walaupun demikian sebenarnya hatinya sangat lembut. Lupakan Yudistira yang bijak, bukan Arjuna yang tampan, juga bukan sikembar Nakula -Sadewa. Ialah Bima yang demikian rajin membantu Drupadi dalam urusan rumahtangga saat mereka diusir jauh ke tengah hutan karena kalah judi. Sifat ini digambarkan Dewi Drupadi menjelang ajalnya, bahwa diantara kelima suaminya, ternyata Bima adalah suami yang paling sensitif.

Kisah Dewa Ruci ini rasanya akan jadi favorit saya. Betapa tinggi nilai filosofinya, betapa kuat pesan yang hendak disampaikan. Karena sebetulnya serat Dewa Ruci ini sangat panjang dan sufistik sifatnya (lihat websitenya alang-alang kumitir wordpress com) maka saya mengambil yang pas-pas saja, supaya aman.

Dimulai dari Amarta. Karena ingin menguasai kerajaan Hastina kaum Kurawa (Duryudana CS) bersekongkol dengan guru mereka Dronacharya untuk melenyapkan Bima. Perintah Dronacharya sangat jelas pada Bima, segera temukan sumber air kehidupan, Tirta Pawitra. "Siapapun yang menemukan air kehidupan maka ia akan mencapai kesucian dan kesempurnaan", begitu pesan sang guru. Maka sebagai puja bakti pada gurunya dimulailah misi ini. Keluar masuk hutan ganas, membunuh dua raksasa pun dilakoninya, tapi air kehidupan itu tak ada disana. Bima pun kembali ke gurunya untuk meminta petunjuk, dan Drona memastikan bahwa kali ini ia tak akan gagal melenyapkan Bima dengan menyuruhnya mencari air itu ke tengah laut selatan yang dihuni naga Nemburnawa yang sakti.

Ditepi samudra biru Bima termangu. Tak ada siapa-siapa disana, sementara dari kejauhan Dewa Ruci memandangnya dengan iba, ya tirta pawitra itu mitos, tidak pernah ada. Dewa Ruci menghampiri sambil menyapa :

"Apa yang kau cari, wahai Bima, hanya ada bencana dan kesulitan yang ada di sini. Di tempat sesunyi dan sekosong ini."

Sang Bima terkejut dan mencari ke kanan kiri, setelah melihat sang penanya, lalu ia bergumam: "Makhluk apa lagi ini, sendirian di tengah samudera sunyi. Kecil mungil tapi berbunyi pongah dan jumawa?"

"Serba sunyi di sini, mustahil akan ada sabda keluhuran di tempat seperti ini, sia-sialah usahamu mencarinya tanpa peduli segala bahaya". lanjut Dewa Ruci seraya membaca pikiran Bima.

Sang Bima semakin termangu menduga-duga, dan akhirnya sadar bahwa makhluk ini pastilah seorang dewa.

"Ah, gelap pekat rasa hatiku. Entahlah apa sebenarnya yang aku cari ini. Dan siapa sebenarnya aku ini," tanya Bima

"Ketahuilah anakku, akulah yang disebut Dewa Ruci, atau sang Marbudyengrat, yang tahu segalanya tentang dirimu, kau anak Kunti, keturunan Wisnu yang hanya beranak tiga, Yudistira, dirimu, dan Arjuna. Yang bersaudara dua lagi Nakula dan Sadewa dari ibunda Madrim si putri Mandraka," jawab Sang Dewa Ruci.

"Datangmu kemari atas perintah gurumu dahyang Drona, untuk mencari tirta pawitra yang tak pernah ada di sini." berkata Sang Dewa Ruci.

"Bila demikian, wejanglah aku seperlunya, agar tidak mengalami kegelapan seperti ini. Terasa bagai keris tanpa sarungnya," ujar Bima.

"Sabarlah anakku, memang berat cobaan hidup. Ingatlah pesanku ini senantiasa : Jangan berangkat sebelum tahu tujuanmu, jangan menyuap sebelum mencicipinya, jangan memakai sebelum tahu itu pakaianmu,
tahu hanya berawal dari bertanya, bisa berpangkal dari meniru, sesuatu terwujud hanya dari tindakan. Janganlah bagai orang gunung membeli emas, mendapat besi kuning pun puas menduga mendapat emas. Bila tanpa dasar, bakti membuta pun akan bisa menyesatkan," berkata Sang Dewa Ruci.

" Wahai Dewa Ruci, tahulah sudah di mana salah hamba. Bertindak tanpa tahu asal tujuan. Sekarang hamba pasrah jiwaraga terserah paduka," lanjut Bima pasrah.
"Nah, bila benar ucapanmu, segera masuklah ke dalam diriku," kata sang Marbudyengrat.

Sang Bima tertegun tak percaya mendengarnya.

"Ah, mana mungkin hamba bisa melakukannya. Paduka hanyalah anak bajang sedangkan tubuh hamba sebesar bukit. Kelingking pun tak akan mungkin muat.
"Wahai Bima si dungu, anakku. Sebesar apa dirimu dibanding alam semesta? Seisi alam ini pun bisa masuk ke dalam diriku. Jangankan lagi dirimu yang hanya sejentik noktah di alam. " jawab Sang Dewa Ruci.

Mendengar ucapan sang Dewa Ruci, sang Bima merasa kecil seketika. Dan segera melompat masuk ke telinga kiri sang Dewa Ruci.

"Hai Bima, katakanlah sejelas-jelasnya segala yang kau saksikan di sana," ujar Dewa Ruci.

"Hanya tampak samudera luas tak bertepi," ucap sang Bima. "Alam awang-uwung tak berbatas hamba semakin bingung, tak tahu mana utara selatan atas bawah depan belakang," ujar Bima lagi.

"Janganlah mudah cemas," ujar sang Dewa Ruci. "Yakinilah bahwa di setiap kebimbangan senantiasa akan ada pertolongan Yang Maha Kuasa".
Dalam seketika sang Bima menemukan arah mata angin dan melihat surya. Setelah hati kembali tenang tampaklah sang Dewa Ruci di jagad walikan.

"Hai, Bima! Ceritakanlah dengan cermat segala yang kau saksikan," ujar Dewa Ruci.

"Awalnya terlihat cahaya terang memancar, " kata sang Bima. "Kemudian disusul cahaya hitam, merah, kuning, putih. Apakah gerangan semua itu?" tanya Bima.

"Ketahuilah Werkudara, cahaya terang itu adalah pancamaya, penerang hati, penunjuk ke kesejatian, pembawa diri ke segala sifat lebih. Cahaya empat warna, itulah warna hati. Hitam, merah, dan kuning adalah penghalang cipta yang kekal. Hitam melambangkan nafsu amarah, merah nafsu angkara, kuning nafsu memiliki. Hanya si putih lah yang bisa membawamu ke budi jatmika dan sanggup menerima sasmita alam. Namun selalu terhalangi oleh ketiga warna yang lain. Sendirian melawan tiga musuh abadi, Hanya atas pertolongan Tuhan lah si putih akan sanggup kau menangkan" Jawab Dewa Ruci.

"Sebelum hal itu dijelaskan," kejar sang Bima. "Hamba tak ingin keluar dari tempat ini, Serba nikmat aman sejahtera dan bermanfaat terasa segalanya".

"Itu tak boleh terjadi, bila belum tiba saatnya, hai Werkudara," jawab Dewa Ruci.

"Dan mengenai Tuhan, engkau akan menemukannya sendiri. Setelah memahami tentang penyebab gagalnya segala usaha serta mampu bertahan dari segala godaan. Di saat itulah kau akan menyadari. Dan batinmu akan berada di dalam Dia".

"Anakku, janganlah perlakukan pengetahuan ini seperti asap dengan api, bagai air dengan ombak, atau minyak dengan susu. Lakukan, amalkan, terapkan apa yang telah kau ketahui, jangan hanya mempercakapkannya belaka. Jalankanlah sepenuh hati setelah memahami segala makna wicara kita ini. Jangan pernah punya sesembahan lain selain Sang Maha Suci. Pakailah senantiasa pengetahuan ini. Pengetahuan lainnya adalah pengetahuan antara, yaitu mati di dalam hidup, hidup di dalam mati. Tujuan hidup adalah mencapai yang kekal. Di dunia ini semuanya akan berlalu, tak perlu lagi segala aji kedigjayaan atau kesaktian, semuanya sudah termuat di sini" lanjut Dewa Ruci sambil menunjuk ke hati nya.

Maka selesailah wejangan sang Dewa Ruci. Sang guru merangkul sang Bima dan membisikkan segala rahasia rasa. Terang bercahaya seketika wajah sang Bima menerima wahyu kebahagiaan.
Kini ia bagaikan kuntum bunga yang telah mekar, menyebarkan keharuman dan keindahan memenuhi alam semesta. Dan Byaaar ! Dewa Ruci hilang bersama cahaya surya, seketika sang Bima sudah berada di tepian samudera. Terasa segar dan tercahayai. Ia siap menjalani hidup dengan semangatnya yang baru.

Apakah yang dibisikan sang Dewa Ruci pada Bima ?? tak ada yang tahu. Tapi dalam bayangan imajiner saya, saya sempat melihat gerak bibir Dewa Ruci. Begini bunyinya :

"Barang siapa mengenali dirinya, maka ia akan mudah mengenali Tuhan nya".

Gak bisa lebih padat lagi, sebab itu inti cerita nya. Disini Dewa Ruci mengajari Bima untuk mengenali diri sendiri, dia diajak jujur melihat dirinya, melihat segala sifat manusianya, bukankah panglima perang sehebat SunTzu juga mengatakan bahwa mengenali kekuatan dan kelemahan diri adalah langkah awal kemenangan ? menang dalam hal apa ? yang jelas menang dalam hidup di dunia yang serba relatif ini.

Berbeda dengan Drona yang memerintahkannya untuk mencari sesuatu yang tidak ada di luar sana, sang Dewa malah menyuruhnya mengenali diri sendiri terlebih dahulu. Dan lihatlah, sifat-sifat yang ada dalam diri manusia, nafsu amarah (hitam), nafsu angkara (merah), nafsu memiliki (kuning) dan nafsu yang tenang /mutmainah (putih).

Dewa Ruci berpesan kepada siapapun yang telah mendapatkan pengetahuan (baca: menuntut ilmu) adalah wajib untuk mengamalkan semua ilmunya dari pada hanya membicarakannya.

Dan tentang bagaimana menemukan Tuhan ditengah pilihan yang serba tidak mudah seperti sekarang, dimana segala kesulitan terus bertambah-tambah, bencana datang tak berhenti, lalu segenap usaha menemui kegagalan. Mundurlah sejenak, dan mulailah menyadari. Ya, sesuatu yang lebih besar, lebih berkuasa dari diri kita sendiri, sesuatu yang "mengatur" disana. Bukankah kesadaran itu seharusnya menggiring kita bahwa tidak ada daya upaya melainkan pertolongan -Nya ?.

Inikah yang di maksud, bahwa kita akan menemukan-Nya sendiri ??

Selamat mengenal diri !

Rabu, 13 Januari 2010

Avatar : Menyaksikan Kelahiran Para Pemberani



“The conquering of fear is the beginning of wisdom. Kemampuan menaklukkan rasa takut merupakan awal dari kebijaksanaan” Aristotle


Mantep dah ! kata beberapa teman setelah menyaksikan Avatar 3D. Kalo menurut saya sih 20 % nya biasaaaaa banget, tapi 80 % nya : EDDUUN !

Ya, Avatar merupakan film HOT yang menjadi penutup rangkaian film-film Holywood ditahun 2009, dibuat dengan jumlah dollar yang fantastis ($ 300 juta), konon James Cameron menghabiskan waktu 3 tahun hanya untuk risetnya saja.

Dimulai dari karakter Jake Sugi, eh Sully yang harus menggantikan saudara kembarnya memasuki dunia Avatar yang sama sekali asing, oke baiklah.

Tersebutlah sebuah dunia bernama Pandora. Sebuah dunia super indah yang paling mungkin ada diluar sana. Tanah leluhur yang agung, Pohon-pohon tua dimana arwah para pahlawan bangsa Na'vy berkumpul, aneka rupa satwa jinak dan buas mengisi keindahan Pandora, gunung-gunung hijau yang melayang diangkasa, lengkap dengan air terjunnya. Aneka rupa tetumbuhan yang memancarkan cahaya-cahaya biru, bunga-bunga sulur yang menyala, kendaraan serupa naga-naga beterbangan mengisi dunia yang tercipta dengan indahnya. Pandora dan bangsa Na'vy adalah kesatuan yang telah lama terjalin dalam harmoni.

Dan selama berabad-abad bangsa Navy telah menghuni Pandora dengan etika yang benar, dimana pembunuhan terhadap binatang atau perusakan pada alam adalah hal yang amat tabu, terlarang dan melanggar hukum tertinggi. Penghormatan yang tinggi terhadap alam inilah yang membuat alam pun melakukan perlindungan terbaik juga untuk mereka. Ada belasan suku yang tersebar disana, terpisah, komunal. Meski begitu mereka akan memenuhi satu panggilan saja : penerbang bayangan atau pengendali Toruk Macto !

Dan -sialnya- bangsa yang serakah selalu ini : ras manusia !. -Maaf jangan tersinggung!- Manusia konon telah lama mempelajari Pandora dan seluk beluk bangsa Na'vy. Keserakahan ternyata tidak pernah tertarik pada keindahan alam seindah apapun !. Ketertarikan manusia disana hanyalah karena batuan bernama Unobtanium yang berharga mahal. Pada awalnya avatar dibuat untuk membujuk bangsa Navy agar meninggalkan pohon keramat dimana para leluhur mereka bersemayam. Tanah dimana pohon keramat ini tumbuh adalah juga sumber terbesar batuan Unobtanium tersimpan, tapi dalam perkembangannya bangsa ini pun di serang juga. Sementara manusia melihat jumlah uang, bangsa Navy melihat pohon keramat ini adalah puncak spiritualitas, penyembuhan, tatanan hukum dan lebih dari itu pohon ini adalah "Hidup" mereka.

Entah apa yang ada di pikiran James Cameron saat menulis dan mensutradarai Avatar, apakah dia menangkap kegelisahan alam ? yang jelas pesannya pada betapa pentingnya menjaga alam, berdamai dalam harmoni, dan bahaya RAKUS semua tergambar dengan indah disana.

Dan untungnya manusia tak melulu jadi biang kerok segala masalah yang ada di bumi, setiap pahlawan pemberani bisa lahir kapan saja dimana saja pada waktu yang tepat, tak akan banyak-banyak memang, tapi cukuplah membuat bumi ini jadi sedikit lebih nyaman untuk dihuni dan cukup tenang untuk bisa dijadikan sumber pengharapan.

Diantara ratusan ribu tentara dan ilmuwan yang ada, hanya beberapa saja yang membelot dan membela bangsa Navy, mereka-mereka inilah yang masuk, berinteraksi, membaca, memahami, menyelam lebih dalam ke kehidupan mereka. Dan inilah titik balik mereka untuk mengangkat senjata dan memutuskan melawan.

Tanah Pandora rusak parah, bangsa Navy banyak yang terbunuh, mereka pun menjerit. Dititik ini kita memahami, tak ada sesuatu pun yang bisa memuaskan jiwa-jiwa yang serakah, akan selalu ada keinginan memiliki kolam yang ketiga, keempat dan seterusnya.

Menjadi pemberani memang penuh resiko. Jangankan harta, nyawa pun dipertaruhkan. Bagi orang yang telah mengenal dirinya keberanian bukanlah lawan dari ketakutan, tapi adalah upaya melampaui rasa takut itu sendiri. Keberanian bisa diartikan sebagai tindakan untuk setia pada suara hati, bahkan sampai kekuatan terakhirnya tak bersisa.

Dan ketika harapan satu-satunya adalah kekuatan alam itu sendiri :

" Ibu alam ini tidak memihak, ia hanya menjaga keseimbangan" demikian pesan Neytiri ditengah keputusasaan Jake Sully menyelamatkan Pandora.

Dan akhirnya Alam akan selalu menemukan keseimbangannya. Alam akan selalu punya cara menyeimbangkan kekuatan-kekuatan didalamnya. Memang dia tak akan memihak, tapi tak akan mengabaikan siapapun yang memberikan penghormatan kepadanya. Ya alam inipun balas mencintai siapapun yang mencintainya.

inikah pesan James Cameron dalam Avatar ? who knows ?

Selasa, 08 Desember 2009

Makna Hidup



Woow.. 1880 an pengunjung.
Terima kasih banyak telah singgah di blog ini, tiga bulan tidak menulis pegel rasanya. Dan mudah-mudahan tulisan spontan ini juga berguna untuk direnungkan.

Sibuk dan sibuk. Diakhir tahun agenda sebuah perusahaan biasanya adalah perawatan rutin. Dan sejak september lalu, hampir satu bulan penuh saya berkutat dengan pekerjaan. Pulang larut malam dan hanya memiliki sedikit waktu untuk istirahat, maka pada satu hari libur yang sangat berharga saya manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Pagi itu saya kedatangan tamu. Tetangga saya yang biasa ikut nonton film kartun di TV. Hari itu tidak biasanya datang dengan muram, mukanya seperti ditekuk. Dan saya masih kurang ngeh. Kami hanya terpaku pada layar TV. Sampai dia akhirnya menanyakan pertanyaan besar ini.

"hanya sebegini sajakah makna hidup saya ?"

Hah, saya melongo. Gugup. Sementara matanya seperti mencari sesuatu dimata saya. Tapi saya masih tidak menduga pertanyaan semacam itu bisa meluncur tanpa hambatan di bibirnya.

Dan terus terang saya lebih suka tidur lagi dari pada harus mikir berat di hari minggu. Tapi itu jadi semacam PR juga buat saya akhirnya.

Dewa. sebut saja begitu. Berusia duapuluh lima-an, setelah menamatkan kuliahnya disalah satu PTN di Bandung, bekerja di sebuah bank BUMN di Banten. Berangkat pagi, pulang sore. Berpenampilan rapi, bersih dan tampak perfeksionis. Sebulan dua kali ke Jakarta untuk dugem bareng gank-nya, tiap akhir pekan ke Bandung ketemu pacar. Beragam bonus sudah siap mampir ke kantongnya. Dunia yang dimata saya as simple as that, hidup yang no need to worry about, fun and fun. Tapi siapa sangka direlungnya tersembunyi pertanyaan seberat itu.

Karena tak ingin menjawab, saya hanya mendengarkan saja. Tentu saja saya juga sering dihinggapi pertanyaan serupa, bahkan pertanyaan itu bisa bertambah intensitasnya ketika keadaan kurang mendukung. Dan saya lebih suka pura-pura sibuk, atau menyibukan diri menghindarinya. Sebenarnya sudah ketemu jawabannya tapi menemukan jawaban sendiri tentunya lebih mendamaikan bukan ?.

Seperti menyuruh orang untuk menundukan pandangan, sesederhana beristirahat, kadang disitulah jawabannya. Ya makna diri akan sulit ditemukan bila kita melihat keatas, kearah yang lebih. Juga bukan diantara kerumunan orang yang sedang berlari. Tapi banyak ditemukan dari segala sesuatu yang sederhana. Perjalanan seseorang tidak dimulai dari menemukan sesuatu diluar sana tapi dimulai saat menemukan kembali dirinya.

Susah-susah gampang. tapi sekali menemukan jawabannya kita tak memerlukan second opinion lagi. Teman saya itu contohnya.

"karena sudah kangen dengan keluarga saya di Garut akhirnya saya pulang. keluarga begitu menyambut saya, kakak saya bercerita tentang anak laki-lakinya yang sedang belajar berdiri, ayah ingin sekali makan buah mangga namun tidak kesampaian karena saat itu bukan musimnya, dan ibu sibuk bercerita tentang panen kacang yang sebentar lagi tiba sambil sesekali ke dapur melihat tumis kangkung untuk makan siang kami"

"dan yang paling menyentuh saya adalah ayah. Jarak pasar dengan rumah itu sangat jauh untuk ukurannya. Makanya saya segera kepasar membeli tiga kilogram mangga harum manis dan sekilo anggur merah import. Ayah saya terlihat bahagia dengan mangga harum manis itu, dan saya menikmati bagaimana beliau mengupasnya. Lalu seiris demi seiris memakannya. Saya merasa sejuk melihatnya, sepertinya segala pertanyaan gila itu tak pernah ada"

"jadi hubungannya dengan makna hidupmu, apa ?" kata saya

"setiap kali pertanyaan itu ada, maka ingatan-ingatan saya tentang ayah dan mangga nya menjawab pertanyaan itu. Dan tak pernah gagal mendamaikan jiwa saya. Makin kesini saya tahu, saya hanya akan berbuat yang paling baik yang mungkin yang bisa saya lakukan, menyenangkan orang tua, mungkin salah satunya"

"dan kamu gak usah nunggu jadi dirut BUMN kalo mau berbuat baik" katanya tajam.


Sepertinya memang begitu, segala macam pertanyaan menggelisahkan akan terjawab ketika hati kita damai. Tentu bukan pengalihan, tapi lebih berpasrah pada Sang Hidup itu sendiri.

Mulai dari yang sederhana. Bukankah saat kita berhenti berlari, kita malah sadar bahwa kita sebetulnya sudah sampai ? mau apa lagi ? mau yang seperti apa lagi ? nikmat yang mana lagi yang kamu ...?

Tapi itu untuk Dewa, saya atau anda tentu lain lagi. Tapi sekarang kita sepakat bahwa akan mudah menemukan makna diri ketika hidup kita, keberadaan kita memberikan manfaat untuk orang lain. Mungkin sekedar menyumbang tumpukan koran bekas pada anak tetangga yang sedang mencari bahan untuk kliping, mungkin sekedar kuah sayur, berkurban di hari raya, jika rejeki berlebih memberdayakan orang lain sehingga banyak orang selamat dari pengangguran, terangkat derajatnya.. (makin gede.. hehehe) tapi itulah. Perbuatannya kelihatan kecil, apa yang diberikan mungkin "hanya ...", tapi kepuasan batin karena rasa berguna sungguh tidak ternilai.

Selamat menemukan makna hidup anda sendiri !

Minggu, 13 September 2009

Bacalah ! Baca Saja



Bagai api yang membakar sumbu obor. Lalu dengan itu menerangi semua gelap sekaligus meniadakannya maka begitulah pendidikan seharusnya menerangi tidak saja pikiran tapi juga jiwa. Baik pendidik, dan yang sedang dalam menuntut ilmu semua tercerahkan oleh api suci pengetahuan yang sinarnya ditandai oleh kehadiran kalam. Dan hakikat ilmu tak akan pernah habis meski tujuh lautan dijadikan tinta dan tujuh lautan tinta ditambahkan lagi dan lagi untuk menuliskan berbagai macam pustaka-pustaka ilmu, niscaya ilmu itu akan selalu ada, demikianlah Tuhan menjelaskan kekayaan dan kesempurnaan ilmu milik-Nya.

Dalam sebuah riset yang diadakan bagi para pendatang muslim Aljazair yang tinggal di Perancis beberapa tahun yang lalu, para ilmuwan terkejut dengan hasil yang mereka dapatkan. Para pendatang dan keturunannya yang sebagian besar buruh kasar itu terlihat berbeda setelah bersentuhan dengan pendidikan. Garis wajahnya tentu masih keras, tapi mata berwarna tembaga itu tentu tak berbohong saat mengemukakan pendapat, bagaimana kian hari mereka kian mengerti cara untuk menghargai diri sendiri, tata perilaku mereka terutama saat berinteraksi dengan orang asing, gaya hidup yang meningkat pesat dan tak lagi ragu menyuarakan ekspresi didalam jiwanya.

Dan kini lihatlah para keturunannya, mereka mampu meraih bidang- bidang ilmu yang paling essensial dalam setiap sisi kehidupan masyarakat Perancis, secara keseluruhan para ilmuwan itu menemukan bahwa semakin lama mereka tampak semakin cantik dan tampan. Penuh percaya diri dan tanpa rasa takut. Demikianlah ilmu menjadi perhiasan yang menghiasi keseharian wajah mereka (bukankah kita pun sepakat bahwa seseorang yang cerdas selalu tampak lebih menarik ?).

Begitulah arti pendidikan untuk manusia. Ia tidak saja membuka gerbang kemungkinan yang begitu kaya tapi juga memanusiakan manusia. Maka barangsiapa menyepelekan masalah pendidikan ini maka sesungguhnya ia menyediakan dirinya untuk masa-masa penuh kegelapan. Selamanya !.

Pintar itu seksi, ia tidak saja menggambarkan sejauh mana cara berpikir bisa memperkaya kehidupan manusia dan membuat perbedaan. -Yang ditandai dengan karya-karya- tapi juga mencahayai jiwa dan meluaskan cahaya itu memancar sampai keluar. Pendidikan itulah ternyata yang menunjukan jalannya.

Pada awalnya kondisi menuntut ilmu adalah sama dengan meraba kondisi yang gelap dan serba baru, kita juga kadang menaruh curiga pada sesuatu yang masih asing bagi kita. Satu- satunya jalan untuk tidak menaruh rasa curiga pada sesuatu yang baru, yang masih asing, adalah mengenalinya untuk kemudian mengakrabinya. Ketika kita telah akrab dengannya, ketakutan, kecurigaan dengan sendirinya sirna, untuk digantikan oleh kejelasan, pemahaman, pengertian.

Dan pada akhirnya hasil dari pendidikan adalah perubahan perilaku. Ilmu itu cahaya yang hanya akan sanggup menerangi hati yang juga bersih dan bening. Ia tidak berubah seketika melainkan sedikit demi sedikit. Karena itu hanya orang yang bersabar dan kuat di ”will” saja yang bisa sukses mencerap ilmu. Keadaan jalan lambat ini bagi sebagian orang akan membuat frustasi dan memilih jalan pintas ataupun berhenti ditengah jalan karena merasa tidak mendapatkan manfaat dari proses belajar ataupun merasa bahwa ilmu yang sedang dituntutnya hanya akan sia-sia. Maka alangkah beruntungnya orang-orang yang menemukan kesenangan ketika menuntut ilmu.

Dan tantangan sesungguhnya dari ilmu adalah hal ini : Menerapkan Apa Yang Telah Diketahui. Dan ini akan berlaku bagi setiap penuntut ilmu. Tapi The Big Thing nya sekarang adalah : banyak orang mempertanyakan di jaman yang di penuhi orang pintar (baca: telah lulus SD, SMP, SMU/SMK, lulus sarjana, master, bahkan PHD, Ing. dst) tapi kehidupan malah semakin sulit, kejahatan kerah putih merebak, korupsi dimana-mana, lebih jauh kerusakan alam yang semakin sulit ditanggulangi (lalu kemana saja ilmu nya ?). Hening.... tak ada jawaban.

Seseorang memang belum benar-benar terdidik sebelum ia mampu membaca dirinya sendiri. Seperti apakah ia didepan cermin, orang pintar yang membangun atau sebaliknya orang pintar yang malah merusak ?.

Lalu sudahkah jujur membaca diri kita sendiri ? wajah apakah yang nampak didepan cermin ? bayangan cermin palsu kah ? atau bayangan si orang baik yang sedang tersenyum puas ?

Iqraa, bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang menciptakan !
bacalah dirimu !
bacalah hatimu !
bacalah hidupmu !

Selamat menuntut ilmu dan tercahayai.


photos taken from national geographic

Kamis, 23 Juli 2009

Dont Let Them Win !!



Iman paling utama ialah engkau mencintai dan membenci karena Allah, engkau gerakan lidahmu untuk berdzikir kepada Allah, engkau mencintai sesama manusia seperti engkau mencintai dirimu sendiri, engkau membenci sesuatu yang menimpa orang lain sebagaimana engkau benci hal itu menimpa dirimu, engkau berkata yang baik atau diam” Jami Al Hadist no 3498

Aaaaaargh ! kesal, gemas, marah, mengutuk itulah beberapa dari berbagai reaksi yang timbul akibat peledakan hotel JW Marriott dan Ritz Carlton jumat 17 Juli lalu akibat ulah teroris. Sembilan orang tewas dan limapuluh empat orang lainnya cedera. Tak bisa dibayangkan efek domino setelahnya tapi luka psikologis akibat hal itu sungguh tak terbayangkan.

Ribuan pendukung olahraga sepakbola seketika kecewa berat, jumat itu pukul setengah dua siang klub Manchester United melalui juru bicaranya menyatakan membatalkan kunjungan mereka ke Gelora Bung Karno. Mereka kecewa disaat warga Asia lain bisa beraudiensi dengan para pemain bola berbakat itu, mungkin berbagi ilmu, pengalaman, maka warga negara Indonesia sekedar untuk berjumpa, melihat secara langsung pun tidak pernah kesampaian. Mengagumkan !!

Seorang kakek dengan wajah bingung, tergopoh-gopoh memasuki rumah sakit demi rumah sakit, kantor polisi mendatangi tempat manapun untuk memastikan keberadaan anaknya, diantara sorot mata harapan bercampur takut pada kenyataan yang mungkin terjadi, ia mencoba terus tegar. Istri kehilangan suami, anak kehilangan orang tuanya, tempat menyandarkan hidup itu tak terdengar kabar beritanya sejak bom itu meledak. Ribuan orang karyawan Holcim seketika berduka karena pimpinan sekaligus ”bapak” mereka turut menjadi korban, seseorang yang bertanggung jawab pada hajat hidup orang banyak yang dikenal santun dan banyak menularkan ilmu-ilmu kepemimpinan, terenggut hanya dalam hitungan jam. Dan banyak lagi cerita-cerita tentang kehilangan tersisa disana, menunggu dan tentu saja memilukan. Wahai, lihatlah luka macam apa yang kalian tinggalkan ?.

Tapi yang lebih parah adalah korbannya. Beberapa orang terlempar keluar hotel dalam keadaaan sekarat, mayat-mayat yang otomatis termutilasi karena hebatnya ledakan, puluhan orang cedera dan entah paku atau kaca atau apalagi yang masuk ketubuh mereka. Cacat ? sudah pasti ! dan derita ini akan diderita seumur hidup. Wahai, lihatlah penderitaan macam apa yang kalian tinggalkan ?

Dalam suasana seperti itu berbagai dugaan berbau politis muncul, beberapa warga melakukan analisa sendiri mengarahkan kecurigaan mereka pada pihak-pihak yang kalah dalam pemilu, sementara dari pihak polisi dugaan kuat mengarah ke dalang teroris warga Malaysia yang sampai kini masih buron, Noordin M Top. Analisa lain mengarah ke sindikat luar negeri yang turut campur tangan menciptakan suasana kacau negeri ini. Tapi kita semua berharap aparat berwenang segera mengungkap pelakunya dan menyeret mereka ke pengadilan, lalu diadili seberat-beratnya.

Seluruh negeri tenggelam dalam kecemasan dan ketakutan yang amat sangat. Dicampur geram dan marah kita semua mengutuk kejadian tak bertanggung jawab itu, sebab selalu saja korbannya tak pernah ada sangkut-pautnya dengan pesan yang ingin disampaikan pengebom itu. Disini korbannya hanyalah pelengkap penderita, tumbal untuk tujuan yang suci menurut versi mereka. Aaaargh ! diantara banyaknya jalan untuk berjuang (jihad) mengapa yang dipilih adalah memerangi sesamanya sendiri, jika tak suka dengan keberadaan mereka atau apapun dari mereka, setidaknya jangan menyakiti mereka. Pilihlah cara lain yang lebih kesatria.

Siapa pun pelakunya tentu berbeda ”faham” dengan kita, jika diatas peraturan kita masih menyisakan ruang untuk cinta pada sesama, maka mereka tidak menyisakan sedikitpun tempat untuk itu. Seolah-olah yang namanya duka, kesengsaraan, kemiskinan adalah mutlak takdir milik mereka dan atas dasar itu lalu merasa berhak membagi dukanya ke sebanyak mungkin orang dengan dalih agama, kebencian, dan sikap sinis yang membakar.

Sesaat, ingin sekali membaca pikiran mereka, otak peledakan itu. Tapi itu percuma, beda paham artinya beda bangunan, beda frekuensi, beda tempat dan alas, untuk bisa mengerti orang lain kita tak bisa menempatkan nya diatas atau dibawah pemahaman kita melainkan setara. Tapi bila alamnya saja sudah lain maka upaya untuk memahami adalah tindakan sia-sia. Lagipula sekarang bukan saatnya memahami tindakan mereka melainkan mencegah dan memeranginya agar kejadian itu tak terulang lagi.
Cukup sudah !.

Betapa luarbiasanya waktu. Ia membawa rahasia masa depan sekaligus menyembuhkan luka, kadang membawa kegembiraan yang sukar dilupakan. Waktu juga yang akan membawa kenangan masa lalu yang pahit, seperti kejadian jumat pagi itu, mudah-mudahan kita tak lantas dibuat lengah apalagi lupa terhadap bahaya yang mungkin menimpa orang-orang tercinta.

Sebagai warga biasa, yang bisa kita lakukan mungkin berlaku waspada, sebisa mungkin membantu aparat, mengaktifkan lagi rukun warga, dan menjaga orang-orang tercinta kita dari jangkauan mereka. Jika ada satu hari yang menjadi tonggak perjuangan, maka hari itu adalah sekarang dan selamanya. Kita mungkin warga biasa, menjalankan kehidupan sehari-hari dengan biasa dan sederhana tapi kita tak pernah takut pada ancaman teror apapun, dan dari siapapun.

Kita mungkin warga biasa yang bergelut dengan keseharian tapi kita tak akan membiarkan para teroris pencuri mimpi itu menang, tidak sekejap pun !.

Saat ini mereka mungkin sedang berbangga hati, tertawa diatas duka orang banyak, merasa berhasil menyebarkan ketakutan, puas dengan ledakan dahsyat yang dirakit dengan rasa iri, bahagia karena bisa merekrut pasukan berani mati, tapi lupa bahwa sesuatu yang ada di alam ini bersifat pasti, siapa yang memiringkan bejana air maka sisi bejana lainnya akan menyeimbangkan diri (hukum Pascal). Lupakah bahwa alam ini penuh keseimbangan ?.

Sekali lagi, jangan biarkan mereka menang !
Jangan pernah sekalipun!