Selasa, 08 Desember 2009

Makna Hidup



Woow.. 1880 an pengunjung.
Terima kasih banyak telah singgah di blog ini, tiga bulan tidak menulis pegel rasanya. Dan mudah-mudahan tulisan spontan ini juga berguna untuk direnungkan.

Sibuk dan sibuk. Diakhir tahun agenda sebuah perusahaan biasanya adalah perawatan rutin. Dan sejak september lalu, hampir satu bulan penuh saya berkutat dengan pekerjaan. Pulang larut malam dan hanya memiliki sedikit waktu untuk istirahat, maka pada satu hari libur yang sangat berharga saya manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Pagi itu saya kedatangan tamu. Tetangga saya yang biasa ikut nonton film kartun di TV. Hari itu tidak biasanya datang dengan muram, mukanya seperti ditekuk. Dan saya masih kurang ngeh. Kami hanya terpaku pada layar TV. Sampai dia akhirnya menanyakan pertanyaan besar ini.

"hanya sebegini sajakah makna hidup saya ?"

Hah, saya melongo. Gugup. Sementara matanya seperti mencari sesuatu dimata saya. Tapi saya masih tidak menduga pertanyaan semacam itu bisa meluncur tanpa hambatan di bibirnya.

Dan terus terang saya lebih suka tidur lagi dari pada harus mikir berat di hari minggu. Tapi itu jadi semacam PR juga buat saya akhirnya.

Dewa. sebut saja begitu. Berusia duapuluh lima-an, setelah menamatkan kuliahnya disalah satu PTN di Bandung, bekerja di sebuah bank BUMN di Banten. Berangkat pagi, pulang sore. Berpenampilan rapi, bersih dan tampak perfeksionis. Sebulan dua kali ke Jakarta untuk dugem bareng gank-nya, tiap akhir pekan ke Bandung ketemu pacar. Beragam bonus sudah siap mampir ke kantongnya. Dunia yang dimata saya as simple as that, hidup yang no need to worry about, fun and fun. Tapi siapa sangka direlungnya tersembunyi pertanyaan seberat itu.

Karena tak ingin menjawab, saya hanya mendengarkan saja. Tentu saja saya juga sering dihinggapi pertanyaan serupa, bahkan pertanyaan itu bisa bertambah intensitasnya ketika keadaan kurang mendukung. Dan saya lebih suka pura-pura sibuk, atau menyibukan diri menghindarinya. Sebenarnya sudah ketemu jawabannya tapi menemukan jawaban sendiri tentunya lebih mendamaikan bukan ?.

Seperti menyuruh orang untuk menundukan pandangan, sesederhana beristirahat, kadang disitulah jawabannya. Ya makna diri akan sulit ditemukan bila kita melihat keatas, kearah yang lebih. Juga bukan diantara kerumunan orang yang sedang berlari. Tapi banyak ditemukan dari segala sesuatu yang sederhana. Perjalanan seseorang tidak dimulai dari menemukan sesuatu diluar sana tapi dimulai saat menemukan kembali dirinya.

Susah-susah gampang. tapi sekali menemukan jawabannya kita tak memerlukan second opinion lagi. Teman saya itu contohnya.

"karena sudah kangen dengan keluarga saya di Garut akhirnya saya pulang. keluarga begitu menyambut saya, kakak saya bercerita tentang anak laki-lakinya yang sedang belajar berdiri, ayah ingin sekali makan buah mangga namun tidak kesampaian karena saat itu bukan musimnya, dan ibu sibuk bercerita tentang panen kacang yang sebentar lagi tiba sambil sesekali ke dapur melihat tumis kangkung untuk makan siang kami"

"dan yang paling menyentuh saya adalah ayah. Jarak pasar dengan rumah itu sangat jauh untuk ukurannya. Makanya saya segera kepasar membeli tiga kilogram mangga harum manis dan sekilo anggur merah import. Ayah saya terlihat bahagia dengan mangga harum manis itu, dan saya menikmati bagaimana beliau mengupasnya. Lalu seiris demi seiris memakannya. Saya merasa sejuk melihatnya, sepertinya segala pertanyaan gila itu tak pernah ada"

"jadi hubungannya dengan makna hidupmu, apa ?" kata saya

"setiap kali pertanyaan itu ada, maka ingatan-ingatan saya tentang ayah dan mangga nya menjawab pertanyaan itu. Dan tak pernah gagal mendamaikan jiwa saya. Makin kesini saya tahu, saya hanya akan berbuat yang paling baik yang mungkin yang bisa saya lakukan, menyenangkan orang tua, mungkin salah satunya"

"dan kamu gak usah nunggu jadi dirut BUMN kalo mau berbuat baik" katanya tajam.


Sepertinya memang begitu, segala macam pertanyaan menggelisahkan akan terjawab ketika hati kita damai. Tentu bukan pengalihan, tapi lebih berpasrah pada Sang Hidup itu sendiri.

Mulai dari yang sederhana. Bukankah saat kita berhenti berlari, kita malah sadar bahwa kita sebetulnya sudah sampai ? mau apa lagi ? mau yang seperti apa lagi ? nikmat yang mana lagi yang kamu ...?

Tapi itu untuk Dewa, saya atau anda tentu lain lagi. Tapi sekarang kita sepakat bahwa akan mudah menemukan makna diri ketika hidup kita, keberadaan kita memberikan manfaat untuk orang lain. Mungkin sekedar menyumbang tumpukan koran bekas pada anak tetangga yang sedang mencari bahan untuk kliping, mungkin sekedar kuah sayur, berkurban di hari raya, jika rejeki berlebih memberdayakan orang lain sehingga banyak orang selamat dari pengangguran, terangkat derajatnya.. (makin gede.. hehehe) tapi itulah. Perbuatannya kelihatan kecil, apa yang diberikan mungkin "hanya ...", tapi kepuasan batin karena rasa berguna sungguh tidak ternilai.

Selamat menemukan makna hidup anda sendiri !

Minggu, 13 September 2009

Bacalah ! Baca Saja



Bagai api yang membakar sumbu obor. Lalu dengan itu menerangi semua gelap sekaligus meniadakannya maka begitulah pendidikan seharusnya menerangi tidak saja pikiran tapi juga jiwa. Baik pendidik, dan yang sedang dalam menuntut ilmu semua tercerahkan oleh api suci pengetahuan yang sinarnya ditandai oleh kehadiran kalam. Dan hakikat ilmu tak akan pernah habis meski tujuh lautan dijadikan tinta dan tujuh lautan tinta ditambahkan lagi dan lagi untuk menuliskan berbagai macam pustaka-pustaka ilmu, niscaya ilmu itu akan selalu ada, demikianlah Tuhan menjelaskan kekayaan dan kesempurnaan ilmu milik-Nya.

Dalam sebuah riset yang diadakan bagi para pendatang muslim Aljazair yang tinggal di Perancis beberapa tahun yang lalu, para ilmuwan terkejut dengan hasil yang mereka dapatkan. Para pendatang dan keturunannya yang sebagian besar buruh kasar itu terlihat berbeda setelah bersentuhan dengan pendidikan. Garis wajahnya tentu masih keras, tapi mata berwarna tembaga itu tentu tak berbohong saat mengemukakan pendapat, bagaimana kian hari mereka kian mengerti cara untuk menghargai diri sendiri, tata perilaku mereka terutama saat berinteraksi dengan orang asing, gaya hidup yang meningkat pesat dan tak lagi ragu menyuarakan ekspresi didalam jiwanya.

Dan kini lihatlah para keturunannya, mereka mampu meraih bidang- bidang ilmu yang paling essensial dalam setiap sisi kehidupan masyarakat Perancis, secara keseluruhan para ilmuwan itu menemukan bahwa semakin lama mereka tampak semakin cantik dan tampan. Penuh percaya diri dan tanpa rasa takut. Demikianlah ilmu menjadi perhiasan yang menghiasi keseharian wajah mereka (bukankah kita pun sepakat bahwa seseorang yang cerdas selalu tampak lebih menarik ?).

Begitulah arti pendidikan untuk manusia. Ia tidak saja membuka gerbang kemungkinan yang begitu kaya tapi juga memanusiakan manusia. Maka barangsiapa menyepelekan masalah pendidikan ini maka sesungguhnya ia menyediakan dirinya untuk masa-masa penuh kegelapan. Selamanya !.

Pintar itu seksi, ia tidak saja menggambarkan sejauh mana cara berpikir bisa memperkaya kehidupan manusia dan membuat perbedaan. -Yang ditandai dengan karya-karya- tapi juga mencahayai jiwa dan meluaskan cahaya itu memancar sampai keluar. Pendidikan itulah ternyata yang menunjukan jalannya.

Pada awalnya kondisi menuntut ilmu adalah sama dengan meraba kondisi yang gelap dan serba baru, kita juga kadang menaruh curiga pada sesuatu yang masih asing bagi kita. Satu- satunya jalan untuk tidak menaruh rasa curiga pada sesuatu yang baru, yang masih asing, adalah mengenalinya untuk kemudian mengakrabinya. Ketika kita telah akrab dengannya, ketakutan, kecurigaan dengan sendirinya sirna, untuk digantikan oleh kejelasan, pemahaman, pengertian.

Dan pada akhirnya hasil dari pendidikan adalah perubahan perilaku. Ilmu itu cahaya yang hanya akan sanggup menerangi hati yang juga bersih dan bening. Ia tidak berubah seketika melainkan sedikit demi sedikit. Karena itu hanya orang yang bersabar dan kuat di ”will” saja yang bisa sukses mencerap ilmu. Keadaan jalan lambat ini bagi sebagian orang akan membuat frustasi dan memilih jalan pintas ataupun berhenti ditengah jalan karena merasa tidak mendapatkan manfaat dari proses belajar ataupun merasa bahwa ilmu yang sedang dituntutnya hanya akan sia-sia. Maka alangkah beruntungnya orang-orang yang menemukan kesenangan ketika menuntut ilmu.

Dan tantangan sesungguhnya dari ilmu adalah hal ini : Menerapkan Apa Yang Telah Diketahui. Dan ini akan berlaku bagi setiap penuntut ilmu. Tapi The Big Thing nya sekarang adalah : banyak orang mempertanyakan di jaman yang di penuhi orang pintar (baca: telah lulus SD, SMP, SMU/SMK, lulus sarjana, master, bahkan PHD, Ing. dst) tapi kehidupan malah semakin sulit, kejahatan kerah putih merebak, korupsi dimana-mana, lebih jauh kerusakan alam yang semakin sulit ditanggulangi (lalu kemana saja ilmu nya ?). Hening.... tak ada jawaban.

Seseorang memang belum benar-benar terdidik sebelum ia mampu membaca dirinya sendiri. Seperti apakah ia didepan cermin, orang pintar yang membangun atau sebaliknya orang pintar yang malah merusak ?.

Lalu sudahkah jujur membaca diri kita sendiri ? wajah apakah yang nampak didepan cermin ? bayangan cermin palsu kah ? atau bayangan si orang baik yang sedang tersenyum puas ?

Iqraa, bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang menciptakan !
bacalah dirimu !
bacalah hatimu !
bacalah hidupmu !

Selamat menuntut ilmu dan tercahayai.


photos taken from national geographic

Kamis, 23 Juli 2009

Dont Let Them Win !!



Iman paling utama ialah engkau mencintai dan membenci karena Allah, engkau gerakan lidahmu untuk berdzikir kepada Allah, engkau mencintai sesama manusia seperti engkau mencintai dirimu sendiri, engkau membenci sesuatu yang menimpa orang lain sebagaimana engkau benci hal itu menimpa dirimu, engkau berkata yang baik atau diam” Jami Al Hadist no 3498

Aaaaaargh ! kesal, gemas, marah, mengutuk itulah beberapa dari berbagai reaksi yang timbul akibat peledakan hotel JW Marriott dan Ritz Carlton jumat 17 Juli lalu akibat ulah teroris. Sembilan orang tewas dan limapuluh empat orang lainnya cedera. Tak bisa dibayangkan efek domino setelahnya tapi luka psikologis akibat hal itu sungguh tak terbayangkan.

Ribuan pendukung olahraga sepakbola seketika kecewa berat, jumat itu pukul setengah dua siang klub Manchester United melalui juru bicaranya menyatakan membatalkan kunjungan mereka ke Gelora Bung Karno. Mereka kecewa disaat warga Asia lain bisa beraudiensi dengan para pemain bola berbakat itu, mungkin berbagi ilmu, pengalaman, maka warga negara Indonesia sekedar untuk berjumpa, melihat secara langsung pun tidak pernah kesampaian. Mengagumkan !!

Seorang kakek dengan wajah bingung, tergopoh-gopoh memasuki rumah sakit demi rumah sakit, kantor polisi mendatangi tempat manapun untuk memastikan keberadaan anaknya, diantara sorot mata harapan bercampur takut pada kenyataan yang mungkin terjadi, ia mencoba terus tegar. Istri kehilangan suami, anak kehilangan orang tuanya, tempat menyandarkan hidup itu tak terdengar kabar beritanya sejak bom itu meledak. Ribuan orang karyawan Holcim seketika berduka karena pimpinan sekaligus ”bapak” mereka turut menjadi korban, seseorang yang bertanggung jawab pada hajat hidup orang banyak yang dikenal santun dan banyak menularkan ilmu-ilmu kepemimpinan, terenggut hanya dalam hitungan jam. Dan banyak lagi cerita-cerita tentang kehilangan tersisa disana, menunggu dan tentu saja memilukan. Wahai, lihatlah luka macam apa yang kalian tinggalkan ?.

Tapi yang lebih parah adalah korbannya. Beberapa orang terlempar keluar hotel dalam keadaaan sekarat, mayat-mayat yang otomatis termutilasi karena hebatnya ledakan, puluhan orang cedera dan entah paku atau kaca atau apalagi yang masuk ketubuh mereka. Cacat ? sudah pasti ! dan derita ini akan diderita seumur hidup. Wahai, lihatlah penderitaan macam apa yang kalian tinggalkan ?

Dalam suasana seperti itu berbagai dugaan berbau politis muncul, beberapa warga melakukan analisa sendiri mengarahkan kecurigaan mereka pada pihak-pihak yang kalah dalam pemilu, sementara dari pihak polisi dugaan kuat mengarah ke dalang teroris warga Malaysia yang sampai kini masih buron, Noordin M Top. Analisa lain mengarah ke sindikat luar negeri yang turut campur tangan menciptakan suasana kacau negeri ini. Tapi kita semua berharap aparat berwenang segera mengungkap pelakunya dan menyeret mereka ke pengadilan, lalu diadili seberat-beratnya.

Seluruh negeri tenggelam dalam kecemasan dan ketakutan yang amat sangat. Dicampur geram dan marah kita semua mengutuk kejadian tak bertanggung jawab itu, sebab selalu saja korbannya tak pernah ada sangkut-pautnya dengan pesan yang ingin disampaikan pengebom itu. Disini korbannya hanyalah pelengkap penderita, tumbal untuk tujuan yang suci menurut versi mereka. Aaaargh ! diantara banyaknya jalan untuk berjuang (jihad) mengapa yang dipilih adalah memerangi sesamanya sendiri, jika tak suka dengan keberadaan mereka atau apapun dari mereka, setidaknya jangan menyakiti mereka. Pilihlah cara lain yang lebih kesatria.

Siapa pun pelakunya tentu berbeda ”faham” dengan kita, jika diatas peraturan kita masih menyisakan ruang untuk cinta pada sesama, maka mereka tidak menyisakan sedikitpun tempat untuk itu. Seolah-olah yang namanya duka, kesengsaraan, kemiskinan adalah mutlak takdir milik mereka dan atas dasar itu lalu merasa berhak membagi dukanya ke sebanyak mungkin orang dengan dalih agama, kebencian, dan sikap sinis yang membakar.

Sesaat, ingin sekali membaca pikiran mereka, otak peledakan itu. Tapi itu percuma, beda paham artinya beda bangunan, beda frekuensi, beda tempat dan alas, untuk bisa mengerti orang lain kita tak bisa menempatkan nya diatas atau dibawah pemahaman kita melainkan setara. Tapi bila alamnya saja sudah lain maka upaya untuk memahami adalah tindakan sia-sia. Lagipula sekarang bukan saatnya memahami tindakan mereka melainkan mencegah dan memeranginya agar kejadian itu tak terulang lagi.
Cukup sudah !.

Betapa luarbiasanya waktu. Ia membawa rahasia masa depan sekaligus menyembuhkan luka, kadang membawa kegembiraan yang sukar dilupakan. Waktu juga yang akan membawa kenangan masa lalu yang pahit, seperti kejadian jumat pagi itu, mudah-mudahan kita tak lantas dibuat lengah apalagi lupa terhadap bahaya yang mungkin menimpa orang-orang tercinta.

Sebagai warga biasa, yang bisa kita lakukan mungkin berlaku waspada, sebisa mungkin membantu aparat, mengaktifkan lagi rukun warga, dan menjaga orang-orang tercinta kita dari jangkauan mereka. Jika ada satu hari yang menjadi tonggak perjuangan, maka hari itu adalah sekarang dan selamanya. Kita mungkin warga biasa, menjalankan kehidupan sehari-hari dengan biasa dan sederhana tapi kita tak pernah takut pada ancaman teror apapun, dan dari siapapun.

Kita mungkin warga biasa yang bergelut dengan keseharian tapi kita tak akan membiarkan para teroris pencuri mimpi itu menang, tidak sekejap pun !.

Saat ini mereka mungkin sedang berbangga hati, tertawa diatas duka orang banyak, merasa berhasil menyebarkan ketakutan, puas dengan ledakan dahsyat yang dirakit dengan rasa iri, bahagia karena bisa merekrut pasukan berani mati, tapi lupa bahwa sesuatu yang ada di alam ini bersifat pasti, siapa yang memiringkan bejana air maka sisi bejana lainnya akan menyeimbangkan diri (hukum Pascal). Lupakah bahwa alam ini penuh keseimbangan ?.

Sekali lagi, jangan biarkan mereka menang !
Jangan pernah sekalipun!

Minggu, 28 Juni 2009

Dare To Dream



“Feel the flame forever burn, teaching lesson we must learn…
to bring us closer to the power of the dream
the world unites in hope and peace, we pray that it will always be
it is the power of the dream that bring us here…”

Itulah sepenggal lagu yang di aransemen oleh David Foster dan liriknya di tulis oleh L. Thompson Deep untuk Celine Dion dalam lagu The Power of The Dream. Betapa bagusnya David Foster mengekspresikan kekuatan mimpi. Lagu dengan lirik yang kuat, choir yang menawan dan iringan orkestra megah siap memanjakan telinga. Sepertinya lagu yang cocoknya jadi lagu kebangsaan sebuah negara itu di desain untuk merayakan kekuatan mimpi-mimpi pendengarnya sekaligus menyemangati para pemimpi-pemimpi baru untuk lebih berani.
Apa yang membuat mimpi begitu ”wajib” untuk dirayakan ? dan kenapa banyak orang mengatakan bahwa hidup berawal dari mimpi ?. Lagi-lagi saya tidak tahu.

Setelah menonton film Laskar Pelangi baru saya mengerti. Ternyata kekuatan mimpi lah yang membuat Andrea Hirata ”memiliki kekuatan” menjelajahi pelosok Eropa sekaligus menyelesaikan studinya di salah satu universitas paling elegan di dunia, Sorbonne. Mimpi pulalah yang mengantarkan Jorma Ollila, chairman Nokia membawa perusahaan itu menjadi perusahaan perangkat telekomunikasi kelas satu di seluruh dunia selama bertahun-tahun, mengantarkan manusia jaman sekarang ke dunia baru yang saling berhubungan, flat tanpa di bentengi batas lagi. Dan sebagai orang yang baru bangun dari tidur saya hanya bisa membelalakkan mata... woow ! saya sudah punya teman seorang Perancis lewat facebook yang dengan pede nya saya ”add” di perangkat selular saya tadi malam (padahal bahasanya aja ngga ngerti sama sekali).

Anggun yang kita kenal sekarang adalah seorang penyanyi internasional yang mencengangkan. Bagaimana suara indahnya melengking-lengking menembus batas budaya dan negara, bagaimana sosok populernya di daulat menjadi duta dunia untuk program mikrokredit PBB sementara lagunya di pakai Luc Besson untuk soundtrak film Transporter 2. Bahkan situs American Online ( AOL) tahun ini (2009) menempatkannya di peringkat 4 sebagai diva dunia mengalahkan penyanyi sekelas Beyonce Knowles. So what happen to you Anggun ?

Ada yang menarik saat menyimak wawancaranya di TV :
”satu saat saya bermimpi, saya menjadi penyanyi yang bisa menebus pasar Eropa, saya tahu jika kita punya mimpi, cepat bangun, cuci muka, berangkat dan jangan lantas tidur lagi” ujarnya sambil tersenyum. Aha ! that is the point.

Its all about dream, lalu apa impian anda ? apakah impian anda terlalu sederhana, atau terlalu rumit ? atau saking jauhnya jarak kini dan nanti (dimasa depan) kita jadi malah takut punya mimpi. Padahal mimpi itu gratis ! banyak orang bermimpi disaat tidur. Tapi orang-orang yang saya sebutkan di atas ini bermimpi, justru saat mereka tidak tertidur sama sekali, mata mereka terbuka, mereka melek, terjaga !.

Mimpi saat seseorang dalam keadaan tidur sering hanya berupa bunga tidur saja, ia meninggalkan kesan yang kadang sesaat saja atau bahkan tidak pernah diingat sama sekali. Tapi mimpi dalam keadaan terjaga sungguh berbeda.

Jika kesadaran seseorang diibaratkan danau, dan pikiran nya diibaratkan pusaran air, maka mimpi adalah sebentuk riak gelombang (pikiran) di danau kesadaran (batin). Ketika pikiran memimpikan buah jambu maka seluruh gelombang pikiran akan berusaha membuat citra atau bayangan buah jambu itu di permukaaan danau, ketika yang dimimpikan adalah tujuan mulia, maka air itu akan beriak mewujudkan gambarannya dengan detil seperti apa dan bagaimana mulia itu adanya. Ketika memikirkan sebuah benda atau perbuatan maka citra nya lah yang hadir dipermukaan danau, maka bagai cermin bening yang memantul ke arah langit, seperti gambaran itu pulalah yang dilihat dan dicatat oleh langit sebagai keinginan. Uniknya dalam keadaan kritis seluruh elemen semesta ini (seluruhnya !) mendukung terwujudnya buah jambu ini di alam nyata ! (Mestakung, prof Yohanes surya, penerbit mizan). Dan ini adalah fakta tak terbantahkan dari hukum-hukum fisika modern.

Riak-riak ini tidak hanya berupa pikiran tetapi juga rasa. Pikiran dan perasaan ini meninggalkan kesan dan terus bertransformasi, terus berdatangan, maka tak terhitung berapa banyak citra yang terekam di atas permukaan danau. Makin banyak keinginan, makin tidak terfokus maka selamanya seseorang menjadi permainan pikirannya sendiri, dan makin tidak bisa mengontrol keinginan maka selamanya danau itu seperti gelisah penuh riak tanpa memantulkan gambaran yang jelas. Hasilnya ? hanya gelisah saja, tak ada capaian ! tinggal mimpi betulan tanpa kejelasan kapan akan menjadi kenyataan.

Setiap mimpi punya aturannya sendiri, ia kombinasi harmonis antara niat dan laku / perbuatan, kadang bukan karena sangat hebat, juga bukan karena bakat yang luar biasa seseorang mencapai impian, tapi kurang ”will”. Yeah will dan masalah terbesar nya will ini ada di alam yang tak terukur, seseorang tak bisa sekedar niat tapi juga harus bergerak (berbuat/laku) mendekati apa yang diniatkan. Maka seseorang sekarang diukur dari apa yang sudah dibuatnya / karyanya yang nyata. Rumit ?. Ya ya.. perlu pengorbanan yang tidak kecil memang. Selalu ada harga yang harus dibayar, tapi selalu ada hal yang kita dapat dari sana.

Back to the dreams.
Dan memiliki impian lalu mempertahankan impian itu agar tetap hidup dan menyala-nyala adalah suatu perjuangan tersendiri, masalah terbesar dan yang paling mencolok adalah adanya gap. Jarak yang cukup jauh antara mimpi dan kenyataan yang sedang dijalani sekarang. Jarak itu kelihatannya dalam dan tak berhingga. Ini seperti seseorang yang hendak berdiri tapi ia langsung dihadang oleh fakta, hendak berjalan jauh malah dibandingkan, hendak melompat si kaki ini malah terganjal, hendak berusaha sungguh-sungguh tapi kesempatannya yang belum ada. Nah lo.

Semuanya tak mudah, tak pernah mudah. Mereka-mereka yang memiliki mimpi seperti nama-nama diatas mengalami kegoncangan hebat, pasang surut, naik turun, merasa ditinggalkan, sendirian, menderita dan merasakan kesusahannya, disaat yang bersamaan semuanya hancur. Ditantang oleh kenyataan sulit didepannya, dilombakan dengan tantangan yang selalu lebih besar dari dirinya sendiri. Tapi lihatlah! masing-masing dari mereka bisa melampauinya. Yang membedakan adalah cara mereka mempertahankan fokus, daya hidup, mimpi, semangat dan cita-citanya dalam riak-riak optimisme yang elegan.

Sekarang anda si empu nya mimpi, mungkin sudah berniat, dan sedang bekerja keras ke arah itu. Dengan susah payah mempertahankan fokus, berusaha lebih keras. Anda mungkin lebih rajin ibadahnya ke Tuhan dan lebih positif melihat hidup. Tapi sudah kah lebih kuat lagi terhadap ”energi lain” yang datang dari luar ?.

Baiklah. Tentu saja semua tak akan semulus perkiraan, bisa saja ada orang lain yang tak suka pada energi positif yang anda tebar sepanjang hari, mereka boleh-boleh saja berusaha menghalang-halangi kemajuan anda, membunuh mimpi, mencurinya, menyerang telak benteng pertahanan anda, lebih jauh bahkan mematikan semangat hidup tanpa kita sadari. Tapi justru disaat seperti itulah kita tak boleh kehilangan diri sendiri. Saat semua datang dan pergi, saat celah tertutup, saat cahaya sulit terlihat. Saat semua hancur sekalipun kita tetap memiliki sesuatu, energi tidur yang sedang menunggu. Energi itu harusnya adalah diri kita sendiri.

Masih sangsi dengan kekuatan mimpi ? masih takut menjalani mimpi anda sendiri ?

Apakah anda berani, bangun di usia lewat dari 70 tahun, saat itu anda mungkin telah renta, tua dan tak ada kekuatan lagi tapi "baru menyadari" bahwa hidup yang selama ini dijalani bukanlah impian anda ??? beneran berani ?

Well, kalau begitu selamat bermimpi !
Selamat berjuang mencapainya dan jangan lupa berdo’a sungguh-sungguh...

Kamis, 04 Juni 2009

MULIA



Ketika bekerja, kalian bagai sepucuk seruling yang menjadi jalan bagi bisikan waktu untuk menjelma menjadi lagu, maka siapakah yang mau menjadi ilalang dungu yang bisu, ketika semesta raya melagukan gita bersamaKahlil Gibran

Salah satu acara yang selalu saya ikuti di sore hari adalah ”Jika Aku Menjadi”. Sebuah acara reality show yang -saya pikir-lumayan berbobot. Menurut saya acara ini dibuat bukan untuk hiburan semata, tapi juga sarat dengan pesan yang saya yakin dimaksudkan untuk melihat lebih dekat satu sisi kehidupan lain. Lokasi bisa di satu sudut kota yang terpinggirkan, kadang disebuah desa yang lumayan jauhnya dimana akses listrik saja pun masih belum bisa dinikmati oleh orang banyak, kadang juga tak jauh dari tempat kita berdiri. Dipandu sendiri oleh orang-orang muda yang berasal dari kota untuk bisa merasakan langsung apa itu kerja keras dan menyingkap sisi lain tentang hidup berkekurangan. Tapi memang yang paling kuat dari keseluruhan inti acara ini adalah ajakan untuk selalu mensyukuri berbagai nikmat Tuhan yang ada di hidup kita.

Tentu bukan mensyukuri bahwa nun jauh disudut sana ada banyak orang lain yang lebih menderita dari kita, tapi lebih ke "melihat lebih dekat" apa yang sedang terjadi disana. Bukan untuk menghibur diri tapi sejenak menyimak permasalahan yang sedang terjadi untuk menemukan dimana yang salah lalu bersama-sama keluar dari sana untuk berusaha memperbaiki keadaan. Bukan pada pekerjaannya tapi tekniknya, juga bukan berapa hasil yang didapat tapi bagaimana memasarkan yang baik untuk mendapat hasil yang menggenapi. Dan disinilah peran para penonton sebenarnya amat diperlukan. Untuk tidak sekedar menonton tapi diharapkan ikut menceburkan diri langsung ke lapangan.

Kita selalu berpikir, makan tiga kali sehari adalah hak paling dasar yang wajar, tidak hanya itu kita terbiasa ”ada” dengan lauk pauk yang memikat selera, tidur dengan kasur-kasur yang empuk, sekolah di tempat favorit, uang saku, uang jajan, ayah mungkin seorang pekerja kelas menengah dan ibu yang punya jadwal arisan minimal sebulan sekali. Tapi lihatlah !
Di sudut lain sebagian besar masyarakat masih harus berjuang memenuhi hak makan tiga kali sehari. Urusan makan ini akan selalu dikaitkan dengan apa pekerjaan yang dijalani karena ekivalen dengan seberapa yang dihasilkan dan berapa banyak yang dibelanjakan. Dan tentu semua pekerjaan yang ditampilkan di program ini adalah pekerjaan mulia. Yang paling hina di negeri ini, di manapun di galaksi manapun adalah mengambil apa yang bukan haknya (baca : korupsi, mencuri).

Saya tidak tahu bagaimana Tuhan Yang Maha Kuasa memasangkan seseorang dengan sebuah pekerjaan, juga menggaji (baca: memberi rezeki) sesuai dengan ukurannya (invisible hand-kah ?). Kenapa seseorang jadi pedagang beras, karyawan swasta, PNS, tukang angkut sayuran, tukang insinyur, CEO, akuntan, petugas kebersihan, tukang cukur, pemecah batu dan lain-lain ( lebih jauh, mungkin ini sebabnya manusia tidak boleh berlaku sombong, sebab kalau sedikit saja tertukar nasib maka seluruh rangkaian cerita hidup kita akan berubah sama sekali).

Izinkan saya memikirkan hal ini : jika rambut saya yang gondrong ini gerah kira-kira siapa yang akan saya mintai ”tolong” untuk mencukurkan jika semua orang adalah pedagang beras ?, oke lah.. kalo saya sakit perut kira-kira siapa yang akan saya mintai ”tolong” jika semua orang adalah tukang cukur ?. Yeah that’s the point. Tidak semata-mata sesuatu itu ”ada” tanpa ada ”kegunaan”, ”fungsi”, ”faedah”. Maka apapun profesi yang ada, hadir dan digeluti di dunia ini semua nya mulia. Yeah pemecah batu, penggali kubur, pembersih selokan, bapak-ibu penyapu jalan-jalan utama, tukang bubur, penerjemah, penulis dan apapun, selama halal dan tidak mengambil hak orang lain adalah mulia. Jika kemudian rejeki dari pekerjaan itu tidak cukup maka cukuplah Tuhan Yang Maha Pemurah yang akan kemudian mengatur jalan selanjutnya.

Yang ideal dari sebuah pekerjaan -yang menghasilkan uang- harusnya timbul karena passion, dari hasrat yang dalam, dari kesuka citaannya melakukan sesuatu, dari kesenangannya, dan gairah yang dimiliki pada minat yang ada didirinya. Yang hobinya menghitung maka profesi akuntan, perbankan mungkin adalah profesi yang tak akan membuatnya ”sekedar melakukan”. Seorang yang berbakat memimpin dan memiliki ”hati”, ”rasa”, dan berbagai syarat-syarat lainnya tentu akan melakukan pekerjaan memimpin dengan baik tanpa harus mengeluh. Semua berjalan sangat baik semakin lama hanya akan semakin hebat saja.

Tapi banyak yang tidak seberuntung itu. Ada yang sedang menunggu pekerjaan impian. Beberapa orang merasa pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan minat dan bakatnya. Beberapa harus bertahan karena "kebutuhan", banyak diantaranya masih berjuang menaikkan grade nya. Dan itu sangat alami, wajar, sebuah proses yang harus terus diupayakan.

”kita lahir dizaman baru!” kata teman saya.
”banyak guru nyambi jadi tukang ojek, kepala sekolah merangkap jadi pemulung, dokter merangkap jadi penyanyi, pelawak merangkap jadi anggota dewan. Kau mungkin pegawai pabrik rendahan tapi kau masih bisa jadi apapun yang kamu mau, jangan membatasi langkah, keluarlah dari keterbatasan menjadi seseorang yang tak terbatas” lanjutnya
Deg !. Saya seperti biasa langsung down.

”Cuma satu syaratnya : miliki pikiran terbuka”
Deg lagi ! dan saya langsung pusing.

Gara-garanya ketika singgah di sebuah hotel di Singapura. (katanya sih) Teman saya melihat seorang kakek-kakek tua yang bekerja mengecek pintu hotel. Sudah puluhan tahun profesi ini dijalaninya dan ia tetap tekun. Ternyata diluar itu ia dan istrinya adalah wirausahawan yang cukup sukses, setahun dua kali ia dan istrinya berlibur ke Macau atau Hawaii.
Ketika ditanya, kenapa masih bekerja sebagai pengecek pintu jika diluar ia sudah kaya. Jawabannya edun :

”anakku, tamu-tamu dihotel ini selain orang-orang penting, mereka juga manusia yang mungkin telah lama dirindukan keluarga mereka dirumah, sebagian mungkin CEO-CEO perusahaan besar yang bertanggung jawab pada nasib banyak sekali orang, mata rantai ini yang saya jaga. Bayangkan jika satu saat terjadi sesuatu, kebakaran misalnya dan hanya karena masalah engsel pintu ini mereka tak bisa menyelamatkan diri, maka saya mungkin tak bisa menebus rasa penyesalan akibat hal ini”.

Dan kata-kata yang di berikan ke saya ternyata lebih pedas dari versi aslinya. Dengan berbagai tambahan sana sini yang membuat saya harus manggut-manggut seperti orang yang ngerti. (belakangan saya meragukan keabsahan ceritanya .. hahaha)

Tapi terlepas dari itu, melihat kembali apa yang kita kerjakan. Memaknai nya lagi, tidak sekedar lakukan tapi semua berasal dari hati, dari kecintaan yang dalam, dari rasa tanggung jawab. Dari sana kita mungkin akan terbiasa melakukan lebih dari sekedar yang diminta.. seperti melukis anda lah sang maestronya, tidak hanya menggurat semata tapi memberi beberapa polesan akhir dimana ratusan tahun kedepan orang masih akan bilang : ini karya Affandi yang hebat itu !

Ah saya hanya bisa berandai-andai jika saja semua orang (termasuk saya pastinya) punya pikiran terbuka dan terbiasa melihat dari sudut yang sama sekali lain seperti ini. Pasti semua akan lebih baik. Mungkin tak akan ada yang ditahan gara-gara email yang isinya keluhan. Tak ada surat kaleng, atau premanisme.

Baiklah. Seseorang mungkin saja tidak menyukai atasannya, lelah dengan situasi kerja yang sikut-sikutan, beberapa teman mungkin tak suka dengan birokrasi basi, teman-teman yang lainnya mungkin benci dengan orang-orang yang berseliweran disana tapi, jangan pernah benci dengan pekerjaan nya.

Bekerja dengan rasa cinta, berarti kalian sedang menyatukan diri dengan diri kalian sendiri, dengan diri-diri orang lain dan dengan Tuhan. Bekerja dengan cinta bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu lah yang akan mengenakannya nantiKahlil Gibran

Ya Allah, mudah-mudahan saya bisa berusaha ke arah itu.. amin