Selasa, 08 Desember 2009

Makna Hidup



Woow.. 1880 an pengunjung.
Terima kasih banyak telah singgah di blog ini, tiga bulan tidak menulis pegel rasanya. Dan mudah-mudahan tulisan spontan ini juga berguna untuk direnungkan.

Sibuk dan sibuk. Diakhir tahun agenda sebuah perusahaan biasanya adalah perawatan rutin. Dan sejak september lalu, hampir satu bulan penuh saya berkutat dengan pekerjaan. Pulang larut malam dan hanya memiliki sedikit waktu untuk istirahat, maka pada satu hari libur yang sangat berharga saya manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Pagi itu saya kedatangan tamu. Tetangga saya yang biasa ikut nonton film kartun di TV. Hari itu tidak biasanya datang dengan muram, mukanya seperti ditekuk. Dan saya masih kurang ngeh. Kami hanya terpaku pada layar TV. Sampai dia akhirnya menanyakan pertanyaan besar ini.

"hanya sebegini sajakah makna hidup saya ?"

Hah, saya melongo. Gugup. Sementara matanya seperti mencari sesuatu dimata saya. Tapi saya masih tidak menduga pertanyaan semacam itu bisa meluncur tanpa hambatan di bibirnya.

Dan terus terang saya lebih suka tidur lagi dari pada harus mikir berat di hari minggu. Tapi itu jadi semacam PR juga buat saya akhirnya.

Dewa. sebut saja begitu. Berusia duapuluh lima-an, setelah menamatkan kuliahnya disalah satu PTN di Bandung, bekerja di sebuah bank BUMN di Banten. Berangkat pagi, pulang sore. Berpenampilan rapi, bersih dan tampak perfeksionis. Sebulan dua kali ke Jakarta untuk dugem bareng gank-nya, tiap akhir pekan ke Bandung ketemu pacar. Beragam bonus sudah siap mampir ke kantongnya. Dunia yang dimata saya as simple as that, hidup yang no need to worry about, fun and fun. Tapi siapa sangka direlungnya tersembunyi pertanyaan seberat itu.

Karena tak ingin menjawab, saya hanya mendengarkan saja. Tentu saja saya juga sering dihinggapi pertanyaan serupa, bahkan pertanyaan itu bisa bertambah intensitasnya ketika keadaan kurang mendukung. Dan saya lebih suka pura-pura sibuk, atau menyibukan diri menghindarinya. Sebenarnya sudah ketemu jawabannya tapi menemukan jawaban sendiri tentunya lebih mendamaikan bukan ?.

Seperti menyuruh orang untuk menundukan pandangan, sesederhana beristirahat, kadang disitulah jawabannya. Ya makna diri akan sulit ditemukan bila kita melihat keatas, kearah yang lebih. Juga bukan diantara kerumunan orang yang sedang berlari. Tapi banyak ditemukan dari segala sesuatu yang sederhana. Perjalanan seseorang tidak dimulai dari menemukan sesuatu diluar sana tapi dimulai saat menemukan kembali dirinya.

Susah-susah gampang. tapi sekali menemukan jawabannya kita tak memerlukan second opinion lagi. Teman saya itu contohnya.

"karena sudah kangen dengan keluarga saya di Garut akhirnya saya pulang. keluarga begitu menyambut saya, kakak saya bercerita tentang anak laki-lakinya yang sedang belajar berdiri, ayah ingin sekali makan buah mangga namun tidak kesampaian karena saat itu bukan musimnya, dan ibu sibuk bercerita tentang panen kacang yang sebentar lagi tiba sambil sesekali ke dapur melihat tumis kangkung untuk makan siang kami"

"dan yang paling menyentuh saya adalah ayah. Jarak pasar dengan rumah itu sangat jauh untuk ukurannya. Makanya saya segera kepasar membeli tiga kilogram mangga harum manis dan sekilo anggur merah import. Ayah saya terlihat bahagia dengan mangga harum manis itu, dan saya menikmati bagaimana beliau mengupasnya. Lalu seiris demi seiris memakannya. Saya merasa sejuk melihatnya, sepertinya segala pertanyaan gila itu tak pernah ada"

"jadi hubungannya dengan makna hidupmu, apa ?" kata saya

"setiap kali pertanyaan itu ada, maka ingatan-ingatan saya tentang ayah dan mangga nya menjawab pertanyaan itu. Dan tak pernah gagal mendamaikan jiwa saya. Makin kesini saya tahu, saya hanya akan berbuat yang paling baik yang mungkin yang bisa saya lakukan, menyenangkan orang tua, mungkin salah satunya"

"dan kamu gak usah nunggu jadi dirut BUMN kalo mau berbuat baik" katanya tajam.


Sepertinya memang begitu, segala macam pertanyaan menggelisahkan akan terjawab ketika hati kita damai. Tentu bukan pengalihan, tapi lebih berpasrah pada Sang Hidup itu sendiri.

Mulai dari yang sederhana. Bukankah saat kita berhenti berlari, kita malah sadar bahwa kita sebetulnya sudah sampai ? mau apa lagi ? mau yang seperti apa lagi ? nikmat yang mana lagi yang kamu ...?

Tapi itu untuk Dewa, saya atau anda tentu lain lagi. Tapi sekarang kita sepakat bahwa akan mudah menemukan makna diri ketika hidup kita, keberadaan kita memberikan manfaat untuk orang lain. Mungkin sekedar menyumbang tumpukan koran bekas pada anak tetangga yang sedang mencari bahan untuk kliping, mungkin sekedar kuah sayur, berkurban di hari raya, jika rejeki berlebih memberdayakan orang lain sehingga banyak orang selamat dari pengangguran, terangkat derajatnya.. (makin gede.. hehehe) tapi itulah. Perbuatannya kelihatan kecil, apa yang diberikan mungkin "hanya ...", tapi kepuasan batin karena rasa berguna sungguh tidak ternilai.

Selamat menemukan makna hidup anda sendiri !

Minggu, 13 September 2009

Bacalah ! Baca Saja



Bagai api yang membakar sumbu obor. Lalu dengan itu menerangi semua gelap sekaligus meniadakannya maka begitulah pendidikan seharusnya menerangi tidak saja pikiran tapi juga jiwa. Baik pendidik, dan yang sedang dalam menuntut ilmu semua tercerahkan oleh api suci pengetahuan yang sinarnya ditandai oleh kehadiran kalam. Dan hakikat ilmu tak akan pernah habis meski tujuh lautan dijadikan tinta dan tujuh lautan tinta ditambahkan lagi dan lagi untuk menuliskan berbagai macam pustaka-pustaka ilmu, niscaya ilmu itu akan selalu ada, demikianlah Tuhan menjelaskan kekayaan dan kesempurnaan ilmu milik-Nya.

Dalam sebuah riset yang diadakan bagi para pendatang muslim Aljazair yang tinggal di Perancis beberapa tahun yang lalu, para ilmuwan terkejut dengan hasil yang mereka dapatkan. Para pendatang dan keturunannya yang sebagian besar buruh kasar itu terlihat berbeda setelah bersentuhan dengan pendidikan. Garis wajahnya tentu masih keras, tapi mata berwarna tembaga itu tentu tak berbohong saat mengemukakan pendapat, bagaimana kian hari mereka kian mengerti cara untuk menghargai diri sendiri, tata perilaku mereka terutama saat berinteraksi dengan orang asing, gaya hidup yang meningkat pesat dan tak lagi ragu menyuarakan ekspresi didalam jiwanya.

Dan kini lihatlah para keturunannya, mereka mampu meraih bidang- bidang ilmu yang paling essensial dalam setiap sisi kehidupan masyarakat Perancis, secara keseluruhan para ilmuwan itu menemukan bahwa semakin lama mereka tampak semakin cantik dan tampan. Penuh percaya diri dan tanpa rasa takut. Demikianlah ilmu menjadi perhiasan yang menghiasi keseharian wajah mereka (bukankah kita pun sepakat bahwa seseorang yang cerdas selalu tampak lebih menarik ?).

Begitulah arti pendidikan untuk manusia. Ia tidak saja membuka gerbang kemungkinan yang begitu kaya tapi juga memanusiakan manusia. Maka barangsiapa menyepelekan masalah pendidikan ini maka sesungguhnya ia menyediakan dirinya untuk masa-masa penuh kegelapan. Selamanya !.

Pintar itu seksi, ia tidak saja menggambarkan sejauh mana cara berpikir bisa memperkaya kehidupan manusia dan membuat perbedaan. -Yang ditandai dengan karya-karya- tapi juga mencahayai jiwa dan meluaskan cahaya itu memancar sampai keluar. Pendidikan itulah ternyata yang menunjukan jalannya.

Pada awalnya kondisi menuntut ilmu adalah sama dengan meraba kondisi yang gelap dan serba baru, kita juga kadang menaruh curiga pada sesuatu yang masih asing bagi kita. Satu- satunya jalan untuk tidak menaruh rasa curiga pada sesuatu yang baru, yang masih asing, adalah mengenalinya untuk kemudian mengakrabinya. Ketika kita telah akrab dengannya, ketakutan, kecurigaan dengan sendirinya sirna, untuk digantikan oleh kejelasan, pemahaman, pengertian.

Dan pada akhirnya hasil dari pendidikan adalah perubahan perilaku. Ilmu itu cahaya yang hanya akan sanggup menerangi hati yang juga bersih dan bening. Ia tidak berubah seketika melainkan sedikit demi sedikit. Karena itu hanya orang yang bersabar dan kuat di ”will” saja yang bisa sukses mencerap ilmu. Keadaan jalan lambat ini bagi sebagian orang akan membuat frustasi dan memilih jalan pintas ataupun berhenti ditengah jalan karena merasa tidak mendapatkan manfaat dari proses belajar ataupun merasa bahwa ilmu yang sedang dituntutnya hanya akan sia-sia. Maka alangkah beruntungnya orang-orang yang menemukan kesenangan ketika menuntut ilmu.

Dan tantangan sesungguhnya dari ilmu adalah hal ini : Menerapkan Apa Yang Telah Diketahui. Dan ini akan berlaku bagi setiap penuntut ilmu. Tapi The Big Thing nya sekarang adalah : banyak orang mempertanyakan di jaman yang di penuhi orang pintar (baca: telah lulus SD, SMP, SMU/SMK, lulus sarjana, master, bahkan PHD, Ing. dst) tapi kehidupan malah semakin sulit, kejahatan kerah putih merebak, korupsi dimana-mana, lebih jauh kerusakan alam yang semakin sulit ditanggulangi (lalu kemana saja ilmu nya ?). Hening.... tak ada jawaban.

Seseorang memang belum benar-benar terdidik sebelum ia mampu membaca dirinya sendiri. Seperti apakah ia didepan cermin, orang pintar yang membangun atau sebaliknya orang pintar yang malah merusak ?.

Lalu sudahkah jujur membaca diri kita sendiri ? wajah apakah yang nampak didepan cermin ? bayangan cermin palsu kah ? atau bayangan si orang baik yang sedang tersenyum puas ?

Iqraa, bacalah dengan menyebut nama Tuhan mu yang menciptakan !
bacalah dirimu !
bacalah hatimu !
bacalah hidupmu !

Selamat menuntut ilmu dan tercahayai.


photos taken from national geographic

Kamis, 23 Juli 2009

Dont Let Them Win !!



Iman paling utama ialah engkau mencintai dan membenci karena Allah, engkau gerakan lidahmu untuk berdzikir kepada Allah, engkau mencintai sesama manusia seperti engkau mencintai dirimu sendiri, engkau membenci sesuatu yang menimpa orang lain sebagaimana engkau benci hal itu menimpa dirimu, engkau berkata yang baik atau diam” Jami Al Hadist no 3498

Aaaaaargh ! kesal, gemas, marah, mengutuk itulah beberapa dari berbagai reaksi yang timbul akibat peledakan hotel JW Marriott dan Ritz Carlton jumat 17 Juli lalu akibat ulah teroris. Sembilan orang tewas dan limapuluh empat orang lainnya cedera. Tak bisa dibayangkan efek domino setelahnya tapi luka psikologis akibat hal itu sungguh tak terbayangkan.

Ribuan pendukung olahraga sepakbola seketika kecewa berat, jumat itu pukul setengah dua siang klub Manchester United melalui juru bicaranya menyatakan membatalkan kunjungan mereka ke Gelora Bung Karno. Mereka kecewa disaat warga Asia lain bisa beraudiensi dengan para pemain bola berbakat itu, mungkin berbagi ilmu, pengalaman, maka warga negara Indonesia sekedar untuk berjumpa, melihat secara langsung pun tidak pernah kesampaian. Mengagumkan !!

Seorang kakek dengan wajah bingung, tergopoh-gopoh memasuki rumah sakit demi rumah sakit, kantor polisi mendatangi tempat manapun untuk memastikan keberadaan anaknya, diantara sorot mata harapan bercampur takut pada kenyataan yang mungkin terjadi, ia mencoba terus tegar. Istri kehilangan suami, anak kehilangan orang tuanya, tempat menyandarkan hidup itu tak terdengar kabar beritanya sejak bom itu meledak. Ribuan orang karyawan Holcim seketika berduka karena pimpinan sekaligus ”bapak” mereka turut menjadi korban, seseorang yang bertanggung jawab pada hajat hidup orang banyak yang dikenal santun dan banyak menularkan ilmu-ilmu kepemimpinan, terenggut hanya dalam hitungan jam. Dan banyak lagi cerita-cerita tentang kehilangan tersisa disana, menunggu dan tentu saja memilukan. Wahai, lihatlah luka macam apa yang kalian tinggalkan ?.

Tapi yang lebih parah adalah korbannya. Beberapa orang terlempar keluar hotel dalam keadaaan sekarat, mayat-mayat yang otomatis termutilasi karena hebatnya ledakan, puluhan orang cedera dan entah paku atau kaca atau apalagi yang masuk ketubuh mereka. Cacat ? sudah pasti ! dan derita ini akan diderita seumur hidup. Wahai, lihatlah penderitaan macam apa yang kalian tinggalkan ?

Dalam suasana seperti itu berbagai dugaan berbau politis muncul, beberapa warga melakukan analisa sendiri mengarahkan kecurigaan mereka pada pihak-pihak yang kalah dalam pemilu, sementara dari pihak polisi dugaan kuat mengarah ke dalang teroris warga Malaysia yang sampai kini masih buron, Noordin M Top. Analisa lain mengarah ke sindikat luar negeri yang turut campur tangan menciptakan suasana kacau negeri ini. Tapi kita semua berharap aparat berwenang segera mengungkap pelakunya dan menyeret mereka ke pengadilan, lalu diadili seberat-beratnya.

Seluruh negeri tenggelam dalam kecemasan dan ketakutan yang amat sangat. Dicampur geram dan marah kita semua mengutuk kejadian tak bertanggung jawab itu, sebab selalu saja korbannya tak pernah ada sangkut-pautnya dengan pesan yang ingin disampaikan pengebom itu. Disini korbannya hanyalah pelengkap penderita, tumbal untuk tujuan yang suci menurut versi mereka. Aaaargh ! diantara banyaknya jalan untuk berjuang (jihad) mengapa yang dipilih adalah memerangi sesamanya sendiri, jika tak suka dengan keberadaan mereka atau apapun dari mereka, setidaknya jangan menyakiti mereka. Pilihlah cara lain yang lebih kesatria.

Siapa pun pelakunya tentu berbeda ”faham” dengan kita, jika diatas peraturan kita masih menyisakan ruang untuk cinta pada sesama, maka mereka tidak menyisakan sedikitpun tempat untuk itu. Seolah-olah yang namanya duka, kesengsaraan, kemiskinan adalah mutlak takdir milik mereka dan atas dasar itu lalu merasa berhak membagi dukanya ke sebanyak mungkin orang dengan dalih agama, kebencian, dan sikap sinis yang membakar.

Sesaat, ingin sekali membaca pikiran mereka, otak peledakan itu. Tapi itu percuma, beda paham artinya beda bangunan, beda frekuensi, beda tempat dan alas, untuk bisa mengerti orang lain kita tak bisa menempatkan nya diatas atau dibawah pemahaman kita melainkan setara. Tapi bila alamnya saja sudah lain maka upaya untuk memahami adalah tindakan sia-sia. Lagipula sekarang bukan saatnya memahami tindakan mereka melainkan mencegah dan memeranginya agar kejadian itu tak terulang lagi.
Cukup sudah !.

Betapa luarbiasanya waktu. Ia membawa rahasia masa depan sekaligus menyembuhkan luka, kadang membawa kegembiraan yang sukar dilupakan. Waktu juga yang akan membawa kenangan masa lalu yang pahit, seperti kejadian jumat pagi itu, mudah-mudahan kita tak lantas dibuat lengah apalagi lupa terhadap bahaya yang mungkin menimpa orang-orang tercinta.

Sebagai warga biasa, yang bisa kita lakukan mungkin berlaku waspada, sebisa mungkin membantu aparat, mengaktifkan lagi rukun warga, dan menjaga orang-orang tercinta kita dari jangkauan mereka. Jika ada satu hari yang menjadi tonggak perjuangan, maka hari itu adalah sekarang dan selamanya. Kita mungkin warga biasa, menjalankan kehidupan sehari-hari dengan biasa dan sederhana tapi kita tak pernah takut pada ancaman teror apapun, dan dari siapapun.

Kita mungkin warga biasa yang bergelut dengan keseharian tapi kita tak akan membiarkan para teroris pencuri mimpi itu menang, tidak sekejap pun !.

Saat ini mereka mungkin sedang berbangga hati, tertawa diatas duka orang banyak, merasa berhasil menyebarkan ketakutan, puas dengan ledakan dahsyat yang dirakit dengan rasa iri, bahagia karena bisa merekrut pasukan berani mati, tapi lupa bahwa sesuatu yang ada di alam ini bersifat pasti, siapa yang memiringkan bejana air maka sisi bejana lainnya akan menyeimbangkan diri (hukum Pascal). Lupakah bahwa alam ini penuh keseimbangan ?.

Sekali lagi, jangan biarkan mereka menang !
Jangan pernah sekalipun!

Minggu, 28 Juni 2009

Dare To Dream



“Feel the flame forever burn, teaching lesson we must learn…
to bring us closer to the power of the dream
the world unites in hope and peace, we pray that it will always be
it is the power of the dream that bring us here…”

Itulah sepenggal lagu yang di aransemen oleh David Foster dan liriknya di tulis oleh L. Thompson Deep untuk Celine Dion dalam lagu The Power of The Dream. Betapa bagusnya David Foster mengekspresikan kekuatan mimpi. Lagu dengan lirik yang kuat, choir yang menawan dan iringan orkestra megah siap memanjakan telinga. Sepertinya lagu yang cocoknya jadi lagu kebangsaan sebuah negara itu di desain untuk merayakan kekuatan mimpi-mimpi pendengarnya sekaligus menyemangati para pemimpi-pemimpi baru untuk lebih berani.
Apa yang membuat mimpi begitu ”wajib” untuk dirayakan ? dan kenapa banyak orang mengatakan bahwa hidup berawal dari mimpi ?. Lagi-lagi saya tidak tahu.

Setelah menonton film Laskar Pelangi baru saya mengerti. Ternyata kekuatan mimpi lah yang membuat Andrea Hirata ”memiliki kekuatan” menjelajahi pelosok Eropa sekaligus menyelesaikan studinya di salah satu universitas paling elegan di dunia, Sorbonne. Mimpi pulalah yang mengantarkan Jorma Ollila, chairman Nokia membawa perusahaan itu menjadi perusahaan perangkat telekomunikasi kelas satu di seluruh dunia selama bertahun-tahun, mengantarkan manusia jaman sekarang ke dunia baru yang saling berhubungan, flat tanpa di bentengi batas lagi. Dan sebagai orang yang baru bangun dari tidur saya hanya bisa membelalakkan mata... woow ! saya sudah punya teman seorang Perancis lewat facebook yang dengan pede nya saya ”add” di perangkat selular saya tadi malam (padahal bahasanya aja ngga ngerti sama sekali).

Anggun yang kita kenal sekarang adalah seorang penyanyi internasional yang mencengangkan. Bagaimana suara indahnya melengking-lengking menembus batas budaya dan negara, bagaimana sosok populernya di daulat menjadi duta dunia untuk program mikrokredit PBB sementara lagunya di pakai Luc Besson untuk soundtrak film Transporter 2. Bahkan situs American Online ( AOL) tahun ini (2009) menempatkannya di peringkat 4 sebagai diva dunia mengalahkan penyanyi sekelas Beyonce Knowles. So what happen to you Anggun ?

Ada yang menarik saat menyimak wawancaranya di TV :
”satu saat saya bermimpi, saya menjadi penyanyi yang bisa menebus pasar Eropa, saya tahu jika kita punya mimpi, cepat bangun, cuci muka, berangkat dan jangan lantas tidur lagi” ujarnya sambil tersenyum. Aha ! that is the point.

Its all about dream, lalu apa impian anda ? apakah impian anda terlalu sederhana, atau terlalu rumit ? atau saking jauhnya jarak kini dan nanti (dimasa depan) kita jadi malah takut punya mimpi. Padahal mimpi itu gratis ! banyak orang bermimpi disaat tidur. Tapi orang-orang yang saya sebutkan di atas ini bermimpi, justru saat mereka tidak tertidur sama sekali, mata mereka terbuka, mereka melek, terjaga !.

Mimpi saat seseorang dalam keadaan tidur sering hanya berupa bunga tidur saja, ia meninggalkan kesan yang kadang sesaat saja atau bahkan tidak pernah diingat sama sekali. Tapi mimpi dalam keadaan terjaga sungguh berbeda.

Jika kesadaran seseorang diibaratkan danau, dan pikiran nya diibaratkan pusaran air, maka mimpi adalah sebentuk riak gelombang (pikiran) di danau kesadaran (batin). Ketika pikiran memimpikan buah jambu maka seluruh gelombang pikiran akan berusaha membuat citra atau bayangan buah jambu itu di permukaaan danau, ketika yang dimimpikan adalah tujuan mulia, maka air itu akan beriak mewujudkan gambarannya dengan detil seperti apa dan bagaimana mulia itu adanya. Ketika memikirkan sebuah benda atau perbuatan maka citra nya lah yang hadir dipermukaan danau, maka bagai cermin bening yang memantul ke arah langit, seperti gambaran itu pulalah yang dilihat dan dicatat oleh langit sebagai keinginan. Uniknya dalam keadaan kritis seluruh elemen semesta ini (seluruhnya !) mendukung terwujudnya buah jambu ini di alam nyata ! (Mestakung, prof Yohanes surya, penerbit mizan). Dan ini adalah fakta tak terbantahkan dari hukum-hukum fisika modern.

Riak-riak ini tidak hanya berupa pikiran tetapi juga rasa. Pikiran dan perasaan ini meninggalkan kesan dan terus bertransformasi, terus berdatangan, maka tak terhitung berapa banyak citra yang terekam di atas permukaan danau. Makin banyak keinginan, makin tidak terfokus maka selamanya seseorang menjadi permainan pikirannya sendiri, dan makin tidak bisa mengontrol keinginan maka selamanya danau itu seperti gelisah penuh riak tanpa memantulkan gambaran yang jelas. Hasilnya ? hanya gelisah saja, tak ada capaian ! tinggal mimpi betulan tanpa kejelasan kapan akan menjadi kenyataan.

Setiap mimpi punya aturannya sendiri, ia kombinasi harmonis antara niat dan laku / perbuatan, kadang bukan karena sangat hebat, juga bukan karena bakat yang luar biasa seseorang mencapai impian, tapi kurang ”will”. Yeah will dan masalah terbesar nya will ini ada di alam yang tak terukur, seseorang tak bisa sekedar niat tapi juga harus bergerak (berbuat/laku) mendekati apa yang diniatkan. Maka seseorang sekarang diukur dari apa yang sudah dibuatnya / karyanya yang nyata. Rumit ?. Ya ya.. perlu pengorbanan yang tidak kecil memang. Selalu ada harga yang harus dibayar, tapi selalu ada hal yang kita dapat dari sana.

Back to the dreams.
Dan memiliki impian lalu mempertahankan impian itu agar tetap hidup dan menyala-nyala adalah suatu perjuangan tersendiri, masalah terbesar dan yang paling mencolok adalah adanya gap. Jarak yang cukup jauh antara mimpi dan kenyataan yang sedang dijalani sekarang. Jarak itu kelihatannya dalam dan tak berhingga. Ini seperti seseorang yang hendak berdiri tapi ia langsung dihadang oleh fakta, hendak berjalan jauh malah dibandingkan, hendak melompat si kaki ini malah terganjal, hendak berusaha sungguh-sungguh tapi kesempatannya yang belum ada. Nah lo.

Semuanya tak mudah, tak pernah mudah. Mereka-mereka yang memiliki mimpi seperti nama-nama diatas mengalami kegoncangan hebat, pasang surut, naik turun, merasa ditinggalkan, sendirian, menderita dan merasakan kesusahannya, disaat yang bersamaan semuanya hancur. Ditantang oleh kenyataan sulit didepannya, dilombakan dengan tantangan yang selalu lebih besar dari dirinya sendiri. Tapi lihatlah! masing-masing dari mereka bisa melampauinya. Yang membedakan adalah cara mereka mempertahankan fokus, daya hidup, mimpi, semangat dan cita-citanya dalam riak-riak optimisme yang elegan.

Sekarang anda si empu nya mimpi, mungkin sudah berniat, dan sedang bekerja keras ke arah itu. Dengan susah payah mempertahankan fokus, berusaha lebih keras. Anda mungkin lebih rajin ibadahnya ke Tuhan dan lebih positif melihat hidup. Tapi sudah kah lebih kuat lagi terhadap ”energi lain” yang datang dari luar ?.

Baiklah. Tentu saja semua tak akan semulus perkiraan, bisa saja ada orang lain yang tak suka pada energi positif yang anda tebar sepanjang hari, mereka boleh-boleh saja berusaha menghalang-halangi kemajuan anda, membunuh mimpi, mencurinya, menyerang telak benteng pertahanan anda, lebih jauh bahkan mematikan semangat hidup tanpa kita sadari. Tapi justru disaat seperti itulah kita tak boleh kehilangan diri sendiri. Saat semua datang dan pergi, saat celah tertutup, saat cahaya sulit terlihat. Saat semua hancur sekalipun kita tetap memiliki sesuatu, energi tidur yang sedang menunggu. Energi itu harusnya adalah diri kita sendiri.

Masih sangsi dengan kekuatan mimpi ? masih takut menjalani mimpi anda sendiri ?

Apakah anda berani, bangun di usia lewat dari 70 tahun, saat itu anda mungkin telah renta, tua dan tak ada kekuatan lagi tapi "baru menyadari" bahwa hidup yang selama ini dijalani bukanlah impian anda ??? beneran berani ?

Well, kalau begitu selamat bermimpi !
Selamat berjuang mencapainya dan jangan lupa berdo’a sungguh-sungguh...

Kamis, 04 Juni 2009

MULIA



Ketika bekerja, kalian bagai sepucuk seruling yang menjadi jalan bagi bisikan waktu untuk menjelma menjadi lagu, maka siapakah yang mau menjadi ilalang dungu yang bisu, ketika semesta raya melagukan gita bersamaKahlil Gibran

Salah satu acara yang selalu saya ikuti di sore hari adalah ”Jika Aku Menjadi”. Sebuah acara reality show yang -saya pikir-lumayan berbobot. Menurut saya acara ini dibuat bukan untuk hiburan semata, tapi juga sarat dengan pesan yang saya yakin dimaksudkan untuk melihat lebih dekat satu sisi kehidupan lain. Lokasi bisa di satu sudut kota yang terpinggirkan, kadang disebuah desa yang lumayan jauhnya dimana akses listrik saja pun masih belum bisa dinikmati oleh orang banyak, kadang juga tak jauh dari tempat kita berdiri. Dipandu sendiri oleh orang-orang muda yang berasal dari kota untuk bisa merasakan langsung apa itu kerja keras dan menyingkap sisi lain tentang hidup berkekurangan. Tapi memang yang paling kuat dari keseluruhan inti acara ini adalah ajakan untuk selalu mensyukuri berbagai nikmat Tuhan yang ada di hidup kita.

Tentu bukan mensyukuri bahwa nun jauh disudut sana ada banyak orang lain yang lebih menderita dari kita, tapi lebih ke "melihat lebih dekat" apa yang sedang terjadi disana. Bukan untuk menghibur diri tapi sejenak menyimak permasalahan yang sedang terjadi untuk menemukan dimana yang salah lalu bersama-sama keluar dari sana untuk berusaha memperbaiki keadaan. Bukan pada pekerjaannya tapi tekniknya, juga bukan berapa hasil yang didapat tapi bagaimana memasarkan yang baik untuk mendapat hasil yang menggenapi. Dan disinilah peran para penonton sebenarnya amat diperlukan. Untuk tidak sekedar menonton tapi diharapkan ikut menceburkan diri langsung ke lapangan.

Kita selalu berpikir, makan tiga kali sehari adalah hak paling dasar yang wajar, tidak hanya itu kita terbiasa ”ada” dengan lauk pauk yang memikat selera, tidur dengan kasur-kasur yang empuk, sekolah di tempat favorit, uang saku, uang jajan, ayah mungkin seorang pekerja kelas menengah dan ibu yang punya jadwal arisan minimal sebulan sekali. Tapi lihatlah !
Di sudut lain sebagian besar masyarakat masih harus berjuang memenuhi hak makan tiga kali sehari. Urusan makan ini akan selalu dikaitkan dengan apa pekerjaan yang dijalani karena ekivalen dengan seberapa yang dihasilkan dan berapa banyak yang dibelanjakan. Dan tentu semua pekerjaan yang ditampilkan di program ini adalah pekerjaan mulia. Yang paling hina di negeri ini, di manapun di galaksi manapun adalah mengambil apa yang bukan haknya (baca : korupsi, mencuri).

Saya tidak tahu bagaimana Tuhan Yang Maha Kuasa memasangkan seseorang dengan sebuah pekerjaan, juga menggaji (baca: memberi rezeki) sesuai dengan ukurannya (invisible hand-kah ?). Kenapa seseorang jadi pedagang beras, karyawan swasta, PNS, tukang angkut sayuran, tukang insinyur, CEO, akuntan, petugas kebersihan, tukang cukur, pemecah batu dan lain-lain ( lebih jauh, mungkin ini sebabnya manusia tidak boleh berlaku sombong, sebab kalau sedikit saja tertukar nasib maka seluruh rangkaian cerita hidup kita akan berubah sama sekali).

Izinkan saya memikirkan hal ini : jika rambut saya yang gondrong ini gerah kira-kira siapa yang akan saya mintai ”tolong” untuk mencukurkan jika semua orang adalah pedagang beras ?, oke lah.. kalo saya sakit perut kira-kira siapa yang akan saya mintai ”tolong” jika semua orang adalah tukang cukur ?. Yeah that’s the point. Tidak semata-mata sesuatu itu ”ada” tanpa ada ”kegunaan”, ”fungsi”, ”faedah”. Maka apapun profesi yang ada, hadir dan digeluti di dunia ini semua nya mulia. Yeah pemecah batu, penggali kubur, pembersih selokan, bapak-ibu penyapu jalan-jalan utama, tukang bubur, penerjemah, penulis dan apapun, selama halal dan tidak mengambil hak orang lain adalah mulia. Jika kemudian rejeki dari pekerjaan itu tidak cukup maka cukuplah Tuhan Yang Maha Pemurah yang akan kemudian mengatur jalan selanjutnya.

Yang ideal dari sebuah pekerjaan -yang menghasilkan uang- harusnya timbul karena passion, dari hasrat yang dalam, dari kesuka citaannya melakukan sesuatu, dari kesenangannya, dan gairah yang dimiliki pada minat yang ada didirinya. Yang hobinya menghitung maka profesi akuntan, perbankan mungkin adalah profesi yang tak akan membuatnya ”sekedar melakukan”. Seorang yang berbakat memimpin dan memiliki ”hati”, ”rasa”, dan berbagai syarat-syarat lainnya tentu akan melakukan pekerjaan memimpin dengan baik tanpa harus mengeluh. Semua berjalan sangat baik semakin lama hanya akan semakin hebat saja.

Tapi banyak yang tidak seberuntung itu. Ada yang sedang menunggu pekerjaan impian. Beberapa orang merasa pekerjaan yang dilakukan tidak sesuai dengan minat dan bakatnya. Beberapa harus bertahan karena "kebutuhan", banyak diantaranya masih berjuang menaikkan grade nya. Dan itu sangat alami, wajar, sebuah proses yang harus terus diupayakan.

”kita lahir dizaman baru!” kata teman saya.
”banyak guru nyambi jadi tukang ojek, kepala sekolah merangkap jadi pemulung, dokter merangkap jadi penyanyi, pelawak merangkap jadi anggota dewan. Kau mungkin pegawai pabrik rendahan tapi kau masih bisa jadi apapun yang kamu mau, jangan membatasi langkah, keluarlah dari keterbatasan menjadi seseorang yang tak terbatas” lanjutnya
Deg !. Saya seperti biasa langsung down.

”Cuma satu syaratnya : miliki pikiran terbuka”
Deg lagi ! dan saya langsung pusing.

Gara-garanya ketika singgah di sebuah hotel di Singapura. (katanya sih) Teman saya melihat seorang kakek-kakek tua yang bekerja mengecek pintu hotel. Sudah puluhan tahun profesi ini dijalaninya dan ia tetap tekun. Ternyata diluar itu ia dan istrinya adalah wirausahawan yang cukup sukses, setahun dua kali ia dan istrinya berlibur ke Macau atau Hawaii.
Ketika ditanya, kenapa masih bekerja sebagai pengecek pintu jika diluar ia sudah kaya. Jawabannya edun :

”anakku, tamu-tamu dihotel ini selain orang-orang penting, mereka juga manusia yang mungkin telah lama dirindukan keluarga mereka dirumah, sebagian mungkin CEO-CEO perusahaan besar yang bertanggung jawab pada nasib banyak sekali orang, mata rantai ini yang saya jaga. Bayangkan jika satu saat terjadi sesuatu, kebakaran misalnya dan hanya karena masalah engsel pintu ini mereka tak bisa menyelamatkan diri, maka saya mungkin tak bisa menebus rasa penyesalan akibat hal ini”.

Dan kata-kata yang di berikan ke saya ternyata lebih pedas dari versi aslinya. Dengan berbagai tambahan sana sini yang membuat saya harus manggut-manggut seperti orang yang ngerti. (belakangan saya meragukan keabsahan ceritanya .. hahaha)

Tapi terlepas dari itu, melihat kembali apa yang kita kerjakan. Memaknai nya lagi, tidak sekedar lakukan tapi semua berasal dari hati, dari kecintaan yang dalam, dari rasa tanggung jawab. Dari sana kita mungkin akan terbiasa melakukan lebih dari sekedar yang diminta.. seperti melukis anda lah sang maestronya, tidak hanya menggurat semata tapi memberi beberapa polesan akhir dimana ratusan tahun kedepan orang masih akan bilang : ini karya Affandi yang hebat itu !

Ah saya hanya bisa berandai-andai jika saja semua orang (termasuk saya pastinya) punya pikiran terbuka dan terbiasa melihat dari sudut yang sama sekali lain seperti ini. Pasti semua akan lebih baik. Mungkin tak akan ada yang ditahan gara-gara email yang isinya keluhan. Tak ada surat kaleng, atau premanisme.

Baiklah. Seseorang mungkin saja tidak menyukai atasannya, lelah dengan situasi kerja yang sikut-sikutan, beberapa teman mungkin tak suka dengan birokrasi basi, teman-teman yang lainnya mungkin benci dengan orang-orang yang berseliweran disana tapi, jangan pernah benci dengan pekerjaan nya.

Bekerja dengan rasa cinta, berarti kalian sedang menyatukan diri dengan diri kalian sendiri, dengan diri-diri orang lain dan dengan Tuhan. Bekerja dengan cinta bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu lah yang akan mengenakannya nantiKahlil Gibran

Ya Allah, mudah-mudahan saya bisa berusaha ke arah itu.. amin

Rabu, 13 Mei 2009

Titik Balik



Sebelum seseorang bertemu kejadian yang cukup telak yang membuat jalan hidup seseorang itu berubah selamanya, atau sebelum bertemu orang lain yang begitu ”kuat” kesannya sampai-sampai mampu merobohkan segala hal yang pernah diyakini selama bertahun tahun maka orang tersebut bisa dikatakan belum bertemu dengan titik baliknya.

"saya berhenti merokok sejak punya anak" kata teman saya
"saya berhenti make (maaf) narkoba, sejak kecelakaan orang tua saya" teman yang lain menimpali
"saya menjadi pro ke orang-orang yang hidup dijalanan, sejak melihat seorang nenek pedagang gorengan duduk di batas marka jalan raya karena kelelahan"

Kita tentu pernah dengar kata-kata seperti ini meluncur di bibir para sahabat atau
teman-teman kita, atau bahkan kita sendiri mengalaminya. Yep titik ini penanda bahwa hidup seseorang akan berubah dengan segera dan selamanya.

Inilah yang saya maksud, titik dimana seseorang bertemu kejadian yang menggugah, membangkitkan ”sesuatu” di dalam dirinya.

Tentu sesuatu yang baik saja yang dibicarakan disini. Lets call : Titik Balik.

Seperti sebuah titik pijakan di tanah, mungkin berupa sebuah batu cadas, bisa tanah liat atau mungkin sebuah keramik bertekstur yang indah. Tapi sekali menginjaknya kita tak akan pernah tahu, paling rendah adalah melompat lebih tinggi, namun yang istimewa malah "terbang" keluar menuju atmosfer. That is titik balik.

Titik balik adalah peristiwa unik. Karena pasti dialami oleh setiap orang, meski peristiwanya mirip-mirip tapi efeknya bisa sangat jauh berbeda. Disini mungkin hanya doa yang kuat dari diri sendiri, dari orang tua dan mereka-mereka yang mengasihi kita agar semua tak jadi lebih buruk sebab selebihnya adalah kekuasaan Tuhan yang luarbiasa hebatnya membolak-balikan hati dan jalan hidup seseorang. Dititik ini benar-benar hanya doa yang kuat.

Sekian tahun hidup dalam ketertindasan pemimpin diktator yang penuh iri hati dan dengki bisa berefek beda pada dua orang sahabat. Si A akan mengingat pengalaman itu sebagai pemicu pembalasan dendam suatu saat nanti, sedang si B bisa mengolah masa-masa pahitnya agar tidak terulang dan berjuang menjadi pembela HAM. Disini keduanya mengalami titik balik tapi terasa jauh bedanya. Keduanya mengalami kegetiran yang sama, masa-masa sulit yang sama, tapi jalan yang ditempuhnya berbeda. Lihat saja, alangkah buruknya rasa iri atas hidup orang lain, sebab ia identik dengan dendam yang tak mengenal rasa puas.

Titik balik merupakan suatu peristiwa revolusioner. Ia memporakporandakan seluruh bangunan nilai-nilai yang pernah dianut. Peristiwa ini peristiwa besar yang akan menghabiskan kekuatan mental seseorang, sebab begitu ia memutuskan sesuatu maka ujian sesungguhnya adalah kepercayaan dirinya. Ketika memutuskan sesuatu maka ujian lainnya adalah hidup yang tak selalu sesuai dengan keinginannya maka disini kekuatan itu sebenarnya diuji: mundur lagi ? atau hadapi dengan tenang ?. Saya berani janji semua itu tak akan mudah.

Mengalami titik balik berarti sedang berada pada titik yang paling menentukan ke arah kehidupan selanjutnya. Di titik ini seseorang berefleksi dengan dirinya, bercakap-cakap tentang banyak hal yang ia temukan selama ini, lalu masuk lebih dalam sedikit lagi. Dari situ ia mengalami apa yang disebut iluminasi, ia terinspirasi oleh tujuan yang lebih besar dari hidupnya, disini -entah bagaimana- pikiran menjadi terang, ia akan sanggup melanggar segala pembatas-pembatas mental untuk bergerak menuju pada apa yang ada di benaknya. ketika sadar ia sudah berada di tempat yang berbeda, tempat lain yang lebih indah, lebih damai. Bagusnya lagi, ia menemukan dirinya lebih besar dan hebat dari sebelumnya.

Di puncak pencapaiannya kesadaran seseorang bergerak ke segala arah, segala kekuatan, kemampuan dan bakat-bakat alami yang selama ini mati suri menjadi bangkit dan hidup.

Contoh :

Titik balik positif saya ambil dari Mochamad Yunus. Saat berjalan menyusuri pasar tradisional kumuh dan mayoritas orang2 yang ada adalah pengemis dari berbagai usia, seketika matanya terbuka. Ini bukan soal siapa yang harus berbuat duluan tapi siapa yang harus di selamatkan duluan. Lulusan terbaik universitas Vanderbilt USA yang menguasai teori ekonomi yang elegan dibenturkan dengan kenyataan yang jauh sangat jauh dari apa yang didapatnya semasa kuliah. Dan ia benar-benar merasa frustasi.

Saat berefleksi yang muncul bukanlah : "bagaimana mengorganisir para pengemis ini agar saya dapat keuntungan dari mereka" tapi " bagaimana saya memberdayakan mereka " . Dan tantangan ini tentu bukan tantangan kelas kacang. Apa yang dilihatnya hari itu menjadi titik balik yang mengubah puluhan tahun cara Yunus memandang kemiskinan. Ia terinspirasi pada tujuan besar, membuat cetak biru dipikirannya, berkemas, berangkat dan berhasil melakukan perubahan.

Sulit sekali menggambarkan suasana batin saat Martin Luther King mengalami titik balik untuk mengusung persamaan hak antara kulit putih dan kulit berwarna. Saat itu teman semasa kecilnya yang berkulit putih dilarang bermain bersama dihalaman rumahnya, alasannya sederhana : karena beda warna. Dan peristiwa puluhan tahun yang getir itulah titik balik yang mengantarkannya sebagai pejuang persamaan hak-hak bagi warga kulit berwarna. Meski lama dan luarbiasa beratnya ia berhasil menyelesaikan perubahan yang di gagasnya. Semua tertegun dengan caranya meninggal tapi semua orang dibuat tersadar dengan mimpinya.

Tentu sulit juga menggambarkan suasana batin seorang Jalaludin Rumi sang mahaguru hebat yang terkenal, beliau punya banyak murid tercerdas yang pernah ada. Tapi setelah mengalami titik balik semua berubah total. Hanya perlu dua hari bagi Syamsudin Et Thabriez(unknown name yang tiba-tiba saja hadir di hidup Rumi) menyampaikan pandangannya pada Rumi. Hanya dua hari kebersamaan mereka tiba-tiba mahaguru Rumi memutuskan meninggalkan semuanya untuk melanjutkan misi menemukan sisi-sisi spiritual Islam yang sekarang disebut kesadaran sufisme. Disusul dengan terbitnya Matsnawi, sebuah kitab sufi klasik yang jadi referensi bagi aliran spiritualis agama-agama besar dunia.

Ruangan gelap berpuluh tahun lamanya seketika terang dengan sebatang lilin yang tak sengaja ditemukannya, tentu bukan nemu lilin atau apinya, tapi siapa yang sengaja menyimpan lilin dan korek api untuk ditemukan oleh orang itu (it must be God isn’t He ?). Kadang hadiah cinta yang terbesar bukan pada seberapa banyak yang ditinggalkan juga bukan seberapa besar yang kita dapat. Melainkan kita dibuat jadi apa oleh cinta.

Bambang tetap Bambang yang masih suka lari tiap pagi. Ratna mungkin mahasiswi yang selalu hadir dikelas ontime, Robert, Dian, Netie, Hartini, Priatna, Nikolai, Anton, Budi, Daman, Luci, Arif, Andri, Irvan, Esti, Rossa, siapa saja. mereka tetap orang biasa yang mungkin tetap bergelut dengan kegiatan sehari-hari. Tapi spiritnya sudah lain. Mereka sudah ketemu misi hidupnya. Tinggal menunggu saja ledakannya.

Sudahkah bertemu titik balik yang seperti ini ? sudahkah mengalaminya ?.

Setiap hari kita bertemu banyak peristiwa, haruskah menunggu ? bisakah kejadian biasa disikapi luarbiasa hingga hari ini selalu lebih baik dari kemarin ?

Selamat menjadi orang hebat !

Rabu, 29 April 2009

Menang Tapi



Menang Tapi

Sudah takdirnya semua manusia hidup dalam suasana kompetisi. Semenjak masih -maaf – sperma, hanya yang unggul sajalah yang akhirnya berhasil membuahi sel telur. Setelah manusia dilahirkan, tumbuh dan bergaul dalam tatanan masyarakat yang lebih luas maka kompetisi adalah suatu keniscayaan yang akan dialami dalam setiap fase hidupnya. Masuk sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas/smk, dan sekolah yang lebih tinggi lagi, lalu bekerja maka suasana kompetisi menjadi luarbiasa kentalnya. Seperti menang dan kalah, institusi mengajarkan semua individunya untuk menang dalam hal apapun tapi lupa mengajarkan cara menerima dan bangkit dari kekalahan.

Kompetisi berguna ? sangat ! dalam kadar yang cukup sehat kompetisi melahirkan dan mendorong inovasi dan kreativitas yang ujung-ujungnya mendorong perubahan zaman. Ia menampakkan dunia baru yang sama sekali tak pernah dibayangkan kelak bakal menghiasi dunia, contohnya saja kompetisi dalam bidang teknologi dan bisnis. Bila saja Thomas Alva Edison tidak berpacu dengan dirinya sendiri maka seumur-umur tak akan ada yang namanya lampu, bila Nokia tidak cepat membaca zaman maka selamanya perusahaan itu hanya akan jadi pabrik pengolah kayu dan sepatu booth.

Dan seiring perkembangan kesadaran manusia yang juga sangat menggembirakan, maka semua hal yang tadinya menyakitkan, memalukan dan menggelapkan kini bergeser maknanya. Seperti juga kekalahan yang dulu amat sangat tabu itu kini menampakan wajah asli yang sesungguhnya. Begitu juga kemenangan yang indah itu ternyata tidak selalu seindah kelihatannya.

Beberapa teman menyuruh saya melakukan ”All Counting” saat terpuruk menerima kekalahan. Entah itu untuk membesarkan hati atau cuma ingin menghibur saja. Teman saya itu menjelaskan tentang suatu hukum – saya sendiri baru dengar ada hukum yang namanya begitu- teman saya menamakan ”Hukum Keseimbangan Mutlak”. What ??
Yang Maha Mutlak hanya Allah saja, kemutlakan itu milik Tuhan semesta alam dan diluar itu semuanya serba relatif. Ngga ngeh ? sama !.
Masih kata dia : kompetisi memang wajar dan sudah khitahnya begitu, tapi soal menang dan kalah itu relatif. Yang ada hanyalah kalah tapi.... dan menang tapi...

Rahasianya adalah All Count (semua dihitung). Apa iya kalah telak ? apa benar ada menang telak ? coba lihat lagi kata teman saya itu. Selama beberapa hari dirumahnya saya disuguhi berbagai tontonan DVD yang bila dipilih secara acak dengan mata tertutup pun semua ceritanya mengandung hukum keseimbangan mutlak. Dan saya rasa ini sebutan saja karena ia sering terlihat ada, mendominasi, dan sangat terasa. Namun karena harus di uraikan dengan bahasa tulis ia jadi terdengar ”wah”.

Saya ngga tahu mengapa disuruh nonton DVD, bukannya menjelaskan kondisi real hidup sesungguhnya malah disuruh nonton.

”Tonton sajalah” katanya sambil tersenyum.

Saya memilih film ”The Promise”. Sebuah film korea keluaran tahun 2005 yang dibintangi Cecilia Cheung dan Jang Dong Gung ini bercerita tentang relativitas yang tadi. Karena terus menerus hidup miskin dan hidup bergantung dari belas kasihan orang lain seorang pengemis perempuan cilik rela menukarnya dengan kebahagiaan. ”kau akan makan makanan terenak yang pernah ada di bumi, mengenakan pakaian terindah yang hanya akan dibuat khusus untukmu, dan tinggal dalam kehidupan mewah hanya dengan satu kutukan kecil saja, "Kau tak akan pernah menemukan cinta, sampai air terjun berubah arah dan waktu bisa diputar kembali” begitu tawaran dewi Mayshen padanya. Dan benar saja tujuh belas tahun kemudian ia telah menjelma menjadi seorang permaisuri raja yang glamor, hanya saja ia tak bahagia !. Ah sementara ia kerap melihat semua orang bahagia setelah menmukan cinta walau sesulit apa keadaannya. Nah disini letak menang relatifnya ia menang menjadi permaisuri yang glamor.. dan kalah relatifnya adalah tak pernah menemukan cinta. Lalu bagaimana ? apakah air terjun bisa mengalir mundur dan waktu bisa diputar ulang ? well jangan khawatir film ini happy ending.

Film kedua sengaja dipilih ”City of Angel”. Film keluaran medio tahun 90 an dibintangi oleh Meg Ryan dan Nicholas Cage. Bercerita tentang seorang malaikat yang selalu berbahagia menuntun kesadaran manusia. Mengiringi semua apapun yang dilakukan manusia, berada di alam ketenangan, kedamaian abadi, yang notabene merupakan impian terdalam manusia.

Saat malaikat melihat kehidupan manusia timbul keingin-tahuannya, godaan terpaan angin pagi, deru ombak laut, kehangatan cahaya matahari, beragam pilihan menjalani hidup, dan yang paling penting : hati yang tengah mencintai. Hal-hal itu membuatnya memutuskan untuk hidup sebagai manusia biasa. Tapi sementara disisi lain (dunia) manusia sering dibuat iri pada kedamaian, ketenangan hidup dan kebahagiaan yang tanpa harus banyak bertanya apa dan kenapa. Kita tak henti-hentinya mengejar semua itu tapi yang ada malah kebalikannya.

Disisi ini kita melihat dua dunia yang saling berkaca-kaca. Manusia melihat malaikat serba indah, damai, nyaman, sempurna, penuh welas asih. Sedang malaikat dalam cerita itu melihat manusia sebagai sosok makhluk yang memiliki free will (kebebasan untuk memilih), menjejak langkah, mencecap segala keindahan versi mereka sendiri. Sungguh aneh, bahkan apa yang sempurna dimata kita tidak selalu dilihat sama oleh orang lain.

Cerita berlanjut, setelah menjatuhkan diri dari gedung yang amat tinggi kini sang malaikat hidup sebagai manusia biasa. Merasakan semua emosi, rasa sakit, dan juga menemukan cinta. Tapi ia belum belajar satu hal : kebahagiaan manusia itu tak pernah kekal. Maka sekarang hukum fana itu berlaku juga pada dirinya. Hanya sehari mereguk bahagia bersama sang kekasih, beberapa jam kemudian kekasih itu tewas dalam kecelakaan. Sekarang ia terpuruk pada rasa sepi dan kesendirian yang menyakitkan. Perjalanannya sebagai manusia seakan menuju ke kesenyapan, cinta dan kebahagiaan sekarang tersimpan di tempat yang hening. Saat itu dia menyadari satu hal : tak ada lagi yang harus disesali, semua keputusannya menjadi manusia biasa adalah freewill yang yang tak akan pernah disesalinya.

Dipagi buta yang sejuk saat para malaikat -yang dulu teman-temannya- berkumpul untuk memberkati hari ia memutuskan sesuatu untuk hidupnya : hari ini ombak masih ada ! saatnya melanjutkan hidup .
Sampai subtitle film itu selesai, sampai soundtrak lagu-lagu indah itu usai saya masih dibuat tercenung. Ah tak ada yang mutlak. Tak ada yang abadi, bahkan bahagia dalam perkara semisal memenangkan kompetisi itupun buat saya jadi tampak samar.

Jika pembandingnya adalah bahagia, maka dalam setiap kemenangan atau kekalahanpun selalu ada tempelan embel-embel di belakangnya : Tapi.
Saya memang menang, tapi...
Saya mungkin kalah tapi...

Jika perjalanan hidup memang sekadar menemukan sudut pandang, lantas adakah kehidupan manusia yang mutlak sempurna ?
Adakah kehidupan yang tak seimbang ?

Lihat saja sekali lagi !!

Kamis, 16 April 2009

Inner Strength



Facebook yang gila-gilaan. Saya keranjingan situs jejaring sosial itu akhir-akhir ini. Bagaimana tidak, meski secara fisik tidak bertemu tapi saya masih bisa ngobrol ngalor ngidul dengan teman-teman semasa sekolah yang dulu suka kabur bareng menghindari jam pelajaran tertentu, rasanya menyenangkan menimpali komen komen yang masuk. Yah meski sebenernya banyak yang gak penting dibahas tapi itu mendekatkan kami kembali, its great!.

Dan semua berubah.

Hampir sepuluh tahun. Para tukang kabur itu kini banyak yang sholeh, kecuali saya mungkin -hahaha- selama sepuluh tahun itu pula kami tak tahu kabar masing-masing, maklumlah teknologi selular dulu masih mahal. Dan saya dibuat tercengang oleh para teman, adik-adik kelas dan para sahabat saya sekarang. Ada yang sudah jadi ayah atau ibu, bidang pekerjaannya pun selain berlainan juga jorok. Maksud joroknya adalah menjelajah kemana-mana. Bolak-balik ke Singapura, magang di Jepang, rapat di New York, tiga bulan sekali harus ke Australia, presentasi di Manila, dua minggu di Hanoy, setengah bulan di Cape town. Gila ! buat saya gila karena semasa kami sekolah dulu saya tak bisa melihat akan sejauh ini.

Kami lulus pas jaman krisis, dua tahun kejatuhan orde baru semua serba tak pasti. Hampir tak ada jalan. Saya ingat di lantai dua ruang praktek kami sering membicarakan apa saja kecuali masa depan, karena masing-masing dari kami tak tahu apa yang akan terjadi. Bila guru-guru kami membicarakan pekerjaan, maka kebanyakan kami menerawang kemana kira-kira akan kami pergi. Lalu semua buyar tanpa bekas.

Ternyata krisis bukan jaminan kami tidak bisa meneruskan hidup, krisis bukan penghalang kemana kami harus pergi, menapaki jalan yang sama sekali baru dan asing, tak ada siapa-siapa, bahkan tanpa direncanakan perjalanan sejauh ini. Yang ada hanya menjalani. Lalu dimana keberanian itu muncul ?.

Meninggalkan rumah, bekerja, menghadapi kehidupan baru sambil menjalaninya bertumbuh. Saya tahu semua pada awalnya sangat sulit bahkan tak jarang sekarangpun masih tetap saja menemui kesulitan tapi kebanyakan tak menyerah. Malah merangsek maju dan melewati kesulitan. Dari mana keberanian itu muncul ?.

Mengagumkan jika mendengarkan ceritanya. Beberapa teman berani, karena percaya hal ini : perjalanan jauh berkilo-kilo meter itu dimulai dari langkah pertama. Beberapa teman meyakini bahwa satu-satunya hal yang paling disesali nanti adalah karena sesuatu yang tak coba dilakukan. Dan yang lainnya berani karena satu-satunya cara untuk berhasil adalah mempertaruhkan segalanya termasuk melangkah dari zona aman ke zona yang tidak diketahui rimbanya.

Seorang teman terinspirasi oleh tabiat elang laut : saat akan ada badai dimana makhluk lain menyingkir menghindar maka sang elang malah terbang tinggi melewati badai. Semua untuk harapan. Sebuah harapan untuk hidup yang lebih baik.

Ah situasi krisis yang menakutkan itu ternyata memiliki efek yang sama dengan situasi yang menunjukan kekuatan kita yang sebenarnya, inner strength !. ternyata malam yang luarbiasa gelap dan menakutkan itu hanya menunjukan kalau pagi akan segera tiba. Yah ternyata krisis pun berguna. Ia hanya menunjukan bahwa kita harus lebih berani, bila berhasil melewatinya tak diragukan bahwa semua akan memperkaya kehidupan kita.

Masih takut ? oh ya haruskah ?

Kamis, 02 April 2009

PS: Ditunggu Segera !



Teman saya di facebook bilang : ”pemilu sekarang "binun" ya milih mo contreng yang mana, gak ada yang mau jadi nomer dua, semua nomer satu ”. Ya memang membingungkan, beberapa minggu belakangan ini politik menjadi eforia yang mau tak mau di alami semua orang. Ratusan banner dengan foto caleg dari yang cakep dan dibikin blur supaya kelihatan terpaksa cakep plus sholeh, tampak jelas terpampang di jalan-jalan utama. Debat partai tampak saling bertolak belakang, beberapa malah saling berbalas pantun, ada partai memprotes program pemerintahan yang sekarang, sampe ketua umumnya nangis2, eeh sekarang malah bikin iklan besar2 mendukung program itu. Ampun DJ !. Benar-benar tidak mendidik, anak2 muda yang masih sehat pikirnya bisa dibuat alergi politik oleh perilaku generasi tua yang tidak kunjung sadar.

Sekarang mau milih juga gamang. Gamang pada perubahan yang mungkin terjadi tapi lebih nestapa pada perubahan yang malah memerosotkan dompet semua orang. Masalahnya, hidup di dunia yang nyata ini sederhana saja. Sejalan dengan teori Maslow. Pemenuhan kebutuhan dasar, pendidikan, kesehatan, aktualisasi diri. Tapi berkaca pada kehidupan saya sendiri, boro2 aktualisasi diri untuk sekedar memenuhi kebutuhan dasar itu saja harus pencet sana, pencet sini.

Untuk tidak memilih kok ya rasanya punya utang. Utang pada nenek2 renta yang masih berkeliaran dijalan menjajakan dagangan ataupun mengemis, utang pada para pengamen kecil yang belum punya hak pilih. Mereka menitipkan suaranya pada kita. Berharap kita menjadi mata bagi yang belum melihat, jadi kekuatan bagi yang saatnya melemah. Mereka menitipkan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Kepemimpinan adalah bahasan menarik yang tak pernah ada habisnya. Ratusan judul buku mengenai kepemimpinan di bahas panjang lebar, teorinya dipaparkan sangat menarik, semua tampak ideal, untuk apa ? untuk melahirkan pemimpin baru yang di cintai, pemimpin yang memiliki ratusan juta tangan yang tak kelihatan untuk mampu mengatasi segala macam permasalahan hidup.
Tapi seperti juga tulisan ini dan banyak tulisan lain, ada hal-hal yang tidak bisa disampaikan oleh buku atau bahasa tulis. Sesuatu yang harus di alami sendiri, sesuatu yang apabila disampaikan melalui media tutur kata –kepemimpinan- hanya akan menjadi mentah.

Kepemimpinan juga berarti ”mengalami” –menjadi- pemimpin. Ya, meski pengalaman bukan segalanya tapi banyak hal, hanya bisa diketahui setelah mengalaminya. Teori ber arung jeram itu tumpah ruah di internet, tapi bila tidak dialami semua teori2 itu akan sia-sia.

Betapa tidak mudahnya memimpin. Di beberapa negara kita lihat politik seperti tornado yang mencerabut seluruh tatanan hidup yang di buat bertahun-tahun, dan imbas jelek nya selalu tumpah pada yang lemah atau yang dilemahkan. Beberapa negara mengalami peralihan kekuasaan yang sangat keras. Rakyatnya dipaksa melihat segala realitas diatas kesulitan yang bertambah-tambah. Di bagian benua Afrika, ada negara yang rakyatnya bisa benar-benar habis karena perang saudara yang berkepanjangan. Untuk apa ? untuk ego, untuk power yang rasanya manis itu, untuk uang tujuh turunan, untuk pengakuan, untuk hal lain yang berada diluar kemampuan kita mengetahuinya.

Adakah pemimpin yang sukses ? tentu ada. Para pemimpin pendahulu yang berhasil jadi pemimpin negara biasanya terlebih dahulu berhasil menjadi pemimpin agama. Seperti lebah yang mengambil inti sari segala kebaikan bunga, lalu di dalam dirinya semua sari bunga itu diolah dalam bentuk madu yang siap di bagikan pada siapapun yang membutuhkan tanpa memandang segala status, keyakinan dan segala batas lainnya. Dengan kata lain ia berhasil mengejawantahkan inti sari dari keyakinan nya ke dalam keseharian kepemimpinan yang di emban nya saat itu.

Melalui biografinya kita lihat bahwa kepemimpinan itu kebanyakan dari hidupnya adalah service. Seseorang yang memimpin ialah seseorang yang men-service rakyatnya, ia meledak hebat karena motif nya mempertahankan diri bergeser menjadi melayani masyarakat, ia jadi wakil Tuhan dalam hal kewenangannya yang luarbiasa. Pernah dengar seorang pemimpin yang menaklukan hampir separuh dunia dan bertahan dalam kurun waktu yang lama ? ya seorang pemimpin negara sekaligus pemimpin agama. Ia yang kita shalawati sepanjang hari.

Lalu sekarang bagaimana? Pemimpin seperti itu tidak dilahirkan sekali dalam seribu tahun. Pemimpin seperti itu privilege nya yang Maha Kuasa, kapan akan turun atau di turunkan mengurusi dunia adalah rahasia besar. Alih-alih menunggu Tuhan, menurunkan pemimpin dari langit lebih baik kita mencarinya sendiri. Dengan keyakinan bahwa dari para calon pemimpin itu, Tuhan menyelipkan satu dua orang yang akan membuat rakyat negeri ini jauh lebih baik.

Dan alih-alih alergi pada politik, bukankah sebaiknya para generasi muda yang melihat apa yang terjadi sekarang menjadikannya sebagai pelajaran agar hal seperti itu tak pernah terjadi lagi di masa depan. Jalan menuju kepemimpinan yang hebat tentu tidak mudah, tak akan ada kalungan bunga, resiko gagal nya selalu lebih besar. Tapi jika niatnya baik, anda akan di doakan oleh kami-kami yang lemah, di dampingi mereka yang bijak, dan dilindungi oleh tangan-tangan lain yang lebih kuat dari pada landasan-landasan langit dan bumi.

Di tunggu segera kemunculannya !

Kamis, 26 Maret 2009

Dr. Rodriguez. Who ??


Miris. Menyaksikan makin banyaknya jumlah pengemis dan pengamen usia sekolah nyanyi-nyanyi tak jelas di jalanan, mereka ada hampir disetiap belokan. Indikator ini tidak baik. Banyak penopang ekonomi keluarga berjatuhan tanpa ampun (baca : di PHK). Para fresh graduate kepayahan mencari pekerjaan. Gaji yang kadang di bawah UMP / UMR sekedar menutup uang transpor dan makan, di tempat lain yang telah bekerja pun mulai habis masa kontraknya sedang disana banyak yang harus di sokong untuk bisa hidup.

Untuk bisa hidup berbagai hal yang mungkin menghasilkan uang akan dilakukan. Pertama pekerjaan halal, lalu bila yang halal itupun sudah sulit maka beralih ke pekerjaan yang -katakanlah- haram. Ini berbahaya, manusia se shalih apapun bisa tergoda bila orang terdekat yang disayanginya tergolek sakit atau meringis menahan lapar. Sementara uang tidak begitu saja jatuh dari langit. Nah kondisi sangat kekurangan dalam hal apapun bisa mendekatkan seseorang pada penghalalan segala cara.

Adakah yang bisa dilakukan ? adakah yang mau melakukan sesuatu ?

Untuk anda yang telah memberdayakan orang lain, salut sanjung buat anda. Kehidupan yang anda beri seolah menghidupi semua manusia. Layaknya tangan yang menggenggam sekendi air, penyambung nyawa bagi yang membutuhkan. Hormat takzim buat anda yang sedang mulai untuk memberi. Mudah-mudahan tangan yang berkah menggugurkan segala laku jahat yang akan ataupun sedang terpikir untuk dilakukan.

di zaman sekarang uang lima ratus, atau seribu rupiah serba nanggung. Beli air mineral dapat satu, beli gorengan juga dapat satu dimakanpun nanggung. Meski duit seribu atau lima ratus rupiah serba nanggung tapi secara fungsi bisa berbeda lho.

Bisa jadi duit seribu atau lima ratus yang anda berikan ke pengemis, anak jalanan itu sempat memperpanjang umur mereka, bisa jadi menunda pikiran-pikiran buruk yang sempat terlintas. Bisa jadi duit seribuan itu membuka pemahaman bahwa didunia yang kejam ini ada yang masih peduli dan mereka tak lagi merasa sendiri.
seribu perak ? lima ratus rupiah ?? lebay ah!

Bisa jadi. Tak ada pemberian yang gagal. memang sih kita juga sering dengar tentang mafia yang mengorganisir mereka. Membongkarnya pun tak pernah menyelesaikan masalah. Tapi dari lima ratus atau seribuan yang anda berikan, energi itu tak akan pernah hilang ia hanya akan berubah bentuk, berubah kapasitas yang satu saat akan kembali ke kita berkali lipat banyaknya.

pernah dengar cerita ini :

Disebuah rumah mewah dipinggiran kota New York, seorang nyonya muda mendengar ketukan lemah dipintunya, ketika pintu dibuka seorang bocah lelaki kurus kering berdiri dan meminta sumbangan. Nyonya itu menyuruhnya masuk lalu memberinya sepiring makanan dan segelas besar susu hangat. Setelah beberapa waktu pengemis kecil itupun mohon diri.

Beberapa puluh tahun kemudian tersiar kabar bahwa usaha suami nyonya -yang sekarang sudah tidak muda lagi- itu jatuh bangkrut. Suaminya telah meninggal dunia dan banyak harta bendanya dijual untuk menutup utang sang suami. Nyonya itu sekarang harus dirawat di rumah sakit karena penyakitnya. tak ada yang bisa dilakukan perempuan tua itu selain menghitung berapa besar utangnya nanti. Hari-hari setelah operasi makin menggelisahkan. Kegelisahan dan detak jantung yang cepat dialami pula oleh dokter yang memimpin rumah sakit itu.

Saatnya bagi suster untuk menyerahkan semua rincian biaya-biaya, tapi sebelum nya sang nyonya menceritakan bahwa dirinya tak akan sanggup membayar segala biaya meskipun ia harus bekerja keras selama sisa hidupnya. Tapi suster itu malah tersenyum. Tangan nyonya itu bergetar hebat menerima beberapa lembar kertas yang disodorkan kepadanya, ia tak sanggup melihat deretan angka-angka yang muncul. Tapi akhirnya dengan susah payah ia mengumpulkan keberaniannya untuk membaca tulisan yang tertera di kertas tsb.

Semenit kemudian air matanya meleleh. Beberapa kertas ditangannya terjatuh bibirnya mengucapkan kata-kata syukur pada Yang Maha Kuasa.
mau tahu kenapa ? di bagian bawah kertas rincian biaya itu ada tulisan kecil-kecil begini bunyinya :

"telah dibayar lunas dengan sepiring makanan enak dan segelas besar susu hangat"
tertanda Dr Adrian Rodriguez kepala Rumah sakit Miami.

( Maksudnya ?? sepiring makanan dan segelas besar susu bisa jadi asuransi kesehatan dikemudian hari ?? ha ha ha. Para ekonom bisa gila, para analis keuangan bisa mati gaya (deu !!). Gimana itungannya ? apa iyaaaa ? ngawur loe gi !! )

Saya ngga tahu cerita itu beneran apa ngga. Tapi pelajaran yang bisa diambil adalah : jangan pernah menyepelekan pemberian sekecil apapun. mungkin sekeping lima ratusan atau seribuan, kecil dan tak begitu berarti. Tapi bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan hidup di jalanan bisa begitu berarti.

Dan dari cerita itu : bisa jadi sepiring makanan dan segelas susu -tempo hari- dicerna di tubuh pengemis kecil itu dan berubah menjadi darah yang mengalir, menyambungkan sehari lagi nyawanya, darah yang mengantarkannya ke nasib baik lain dimasa depannya dan kelak menyambungkan lagi nyawa-nyawa lain yang hampir putus.

Sementara nyonya itu memutuskan untuk mengambil peran : menjadi jalan untuk satu kehidupan lagi.

Di kediaman_Nya, Tuhan Yang Maha Pengasih menyaksikan semua sequence (rangkaian kejadian) ini memutuskan membalasnya suatu saat, sebuah rencana yang tak bisa di perkirakan sebelumnya. Kejutan dari arah yang tak terduga, speechless !. Rangkaian Kasus semacam ini bila di "googling" akan banyak kita temukan. Dan terjadi tidak satu atau dua kali.

Lihatlah ! kepakan sayap seekor kupu-kupu di New York bisa menjadi badai tornado di Miami. Kebaikan "kecil" yang bahkan dilupakan pemberinya telah dikembalikan lagi, berlipat-lipat banyaknya.

Adakah yang mau mengambil peran seperti Nyonya itu ?

Memberi itu tidak mudah. Perlu orang dengan kualitas lain untuk lapang dalam melakukannnya. Perlu trik ikhlas khusus yang membuat seseorang yang di beri tidak lantas merasa berhutang budi. Tapi ah, orang sehebat anda, saya yakin sudah sering melakukannya. I never doubt that.

Kemampuan memberi pada seseorang sudah pasti akan mendatangkan kebahagiaan tersendiri, mungkin sekarang mulai lagi menyiapkan uang recehan. Mungkin tak pernah ada jaminan orang yang kita beri akan membalasnya. Tapi yakinlah saja bahwa ada Yang Maha Menyaksikan yang kelak membalasnya dalam bentuk lain, disuatu tempat yang tidak terduga. Dan tak pernah kita tahu kapan dan dimana tepatnya.

Lima ratus, seribu, seratus ribu, sejuta rupiah. Atau malah memberdayakan sekalian. Ah terserahlah. Buat Tuhan tertawa terbahak-bahak melihat ulah kita.

Well, selamat memberi !

Kamis, 19 Maret 2009

THE SEQUENCE, RANGKAI PERTEMUAN



Beberapa waktu yang lalu saya bertemu dengan seorang teman lama. orangnya baik, penuh semangat hidup. Buat saya yang semangatnya suka byar pet seperti listrik PLN bertemu dengan seseorang seperti dia adalah berkah. Bagaimana tidak, semangatnya itu menulari saya yang dari pagi sudah lima watt, lalu serta merta energi saya naik tajam kayak dolar, sebelas ribu delapan ratus watt. mencorong terus dan pada sore hari pas orangnya pergi energi turun lagi jadi sepuluh watt. Ampun dah!.

Saya jadi kepikiran. Andai kita tak bertemu guru-guru kita sepertinya kita bakalan hidup dalam gelap alias zaman jahiliyah, tak bisa baca tulis, tak bisa ngitung duit, tak kenal sejuta itu berapa nolnya. Andai tak bertemu dengan teman2 SD yang mengajarkan bagaimana melakukan relasi tentu saat ini kita sangat payah mengenali orang lain.

Bertemu dengan teman2 SMP yang mengajarkan tentang betapa hebatnya suatu hubungan maka selamanya kita takkan mengenal cinta monyet yang membuat kita tertawa lebar2. Jika saja tak pernah bertemu/ dipertemukan dengan teman-teman SMK atau SMU maka kita tak akan pernah bisa membaca diri sendiri bergaul dengan mereka menyadarkan saya bahwa pertemuan dengan siapapun adalah sebuah "gift"/ hadiah, mereka mengajarkan sedikit banyak tentang jati diri saat itu. Lalu bertemu lagi dengan teman2 saat kuliah kita jadi tahu apa yang kita inginkan saat ini dan nanti. Bertemu dengan teman2 sekerjaan saya jadi tahu dimana posisi saya dan harus ngapain dengan itu.

Thanks God for you guys !

Betapa hebatnya rangkaian pertemuan-demi pertemuan yang terjadi dalam hidup kita. Izinkan saya menyebutnya : Sequence / rangkaian pertemuan atau rangkaian kejadian.

Saat saya nyaris tertabrak truk tempo hari efek berikutnya saya jadi lebih hati-hati. Efek lain saya jadi mewanti-wanti semua orang yang saya kenal. efek lainnya lagi saya jadi tahu rasanya kehilangan, sequnce terjadi dan terus terjadi.

Peristiwa sequence adalah unik. Peristiwa dipertemukannya kita dengan seseorang atau dengan suatu kejadian adalah "sengaja diatur" agar kita menyadari sesuatu. Tak harus tahu saat itu. tapi itu akan membekas dalam ingatan kita. lalu satu saat kita akan bilang : aha ! ternyata untuk sampai disana saya harus belok kesini dulu.

Namun begitu, peristiwa sequence tidak selamanya menyenangkan. Terkadang dalam sebuah sequance terjadi konflik panas yang hebat. Pertengkaran, musuhan, males ketemu, males ngeladenin, masih ada sedikit dendam. Ya kadang menyakitkan kadang sampe parah... (deu!). maaf terlalu mendramatisir. Jangan terlalu serius ya .. haha !

Tapi beneran. Tidak semata-mata kita bertemu seseorang -dengan berbagai rupa dan watak melainkan ada maksudnya. Tapi apa sih maksud nya kita dipertemukan ? saya juga ngga tahu.

Dalam diri setiap orang terkandung kompleksitas yang luar biasa. Tapi dari segala kompleksitasnya yang rumit itu kita masih bisa melihat beberapa cahaya berpendar-pendar dalam laku teman-teman kita atau mereka2 yang hadir di hidup kita dulu dan sekarang. Dan itu adalah salah satu kualitas terbaiknya.

Anda mungkin pernah bertemu seseorang yang sangat biasa2 saja tapi kebaikannya begitu mencengangkan, beberapa dari mereka sangat cerdas. Meski kasar tapi bersedia mengajari kita matematika yang rumitnya bikin kita berkerut-kerut. Atau prestasinya setara dengan kita tapi dia bersedia duduk sebangku dan mendengarkan dengan setia. Atau bisa jadi orang itu pendiamnya minta ampun tapi pintu rumahnya terbuka untuk kita setiap saat, kapan saja. Saya yakin anda mengerti maksudnya dan punya banyak contoh lebih banyak dari saya.

Lihat saja kualitas itu. Indah bukan ?. Selalu ada kualitas terbaik dalam diri setiap orang termasuk dalam diri kita. Tidak mungkin tidak !.

Dalam hidup sequence adalah tidak terelakan. Kita akan selalu bertemu orang-orang, kita akan mengalami banyak peristiwa. Bila terpaku pada pahitnya maka seumur-umur semua jadi pahit, tapi bila berlaku proporsional bahwa tak selalu yang pahit itu racun maka kita juga akan paham bahwa selalu ada sisi baiknya.


Saya mengajak untuk melihat lebih dekat siapapun yang ada, sesuatu yang pernah hadir dalam hidup kita yang singkat ini, selalu : melihat hanya kualitas-kualitas terbaiknya saja. dan soal yang tidak enak - tidak enak itu sebaiknya di maafkan saja, bukankah dalam diri kita juga ada kulitas lain yang harus dimaafkan oleh keluarga, istri/suami, anak2, teman teman dan para sahabat kita ?. Tentu semua akan berat. Tapi mengingat-ingat yang tidak enak adalah seperti menyimpan telur yang sudah busuk di saku celana dan selalu kita bawa kemana-mana.

Dari sana kita tersadar satu hal : jika dalam diri kita ada dua kualitas: baik dan buruk. Maka selanjutnya kita ingin dikenal seperti apa ?, seperti bagaimana ?.

Mungkin inilah saatnya menonjolkan kualitas terbaik itu dengan lebih maksimal. Dan mengecilkan kualitas-kualitas lain yang sifatnya hanya akan merugikan diri sendiri.

Jika mata kita hanya melihat hanya yang indah-indah saja dari anggota keluarga para teman dan para sahabat kita dan siapapun yang singgah di hidup kita, bukankah kehidupan ini jadi lebih indah lagi untuk di jalani, lebih ringan untuk di gerakan, dan lebih abadi untuk di kenang ?

Rabu, 11 Maret 2009

Melewati ketidakpastian



Satu tambah satu tak pernah dua
bingung ya ? ha ha .. sama.
kalo dalam matematika 1+1 = 2 adalah hal yang lazim, tapi kalo menghitung apapun dalam hidup kita yang real ini 1+1 = 2(X). Ya ada X disitu. X ? kok bisa sih ada X
disitu?

Umpamanya begini : bulan ini kita nabung ke bank 1 juta rupiah lalu bulan depan 1 juta rupiah lagi, di bulan ketiga apakah akan jadi 2 juta rupiah ? belum tentu. bisa jadi kurang beberapa puluh ribu karena kena potongan administrasi, bisa jadi 20 juta karena dapat undian, bisa malah hilang sekalian karena di gondol orang. Nah maksud saya disitulah posisi X nya. Di kemungkinan yang terjadi, di ketidakpastian yang tahu-tahu muncul. Kita mungkin sering menemukan situasi seperti ini di keseharian kita.

Kok ada ya hukum semacam itu ?. Karena tak terlihat dia hampir ditiadakan, meski kurang ter ekspos ternyata tak mengurangi kekuatannya. Setelah kejadian barulah kita menuntut segala detil penjelasan yang masuk akal apalagi jika ternyata efeknya sangat besar.

Si faktor X ini datang tak diundang. Tak bisa diramalkan namun bisa menggoyahkan hidup kita. Seperti dulu saat pertama kali penyakit cacar ditemukan di Eropa ia lantas meruntuhkan keyakinan bahwa penyakit yang paling mematikan adalah influenza. Apa yang ada di luar pengetahuan kita selama ini ternyata lebih besar dari pada apa yang kita perkirakan.

Dengan kata lain kerja faktor X bisa seperti ini :
setelah lama mengusahakan segala sesuatu agar tujuan tercapai ternyata di akhir malah terjadi kekacauan. Atau setelah lama hidup dalam kepatahan - maksudnya masuk ke situasi terparah sampai terpukul- eh diakhir malah mendapat kesuksesan dan menjalani
hidup mulia.

Dari dua contoh diatas kita melihat bahwa faktor X ini bisa menjadi sangat berpengaruh mengalahkan segala kalkulasi dan kepastian yang kita usahakan. Ia tak bisa di kalahkan oleh kepastian yang kita kumpulkan bertahun-tahun, data-data kedatangannya tak bisa diramalkan dengan kalkulus setinggi apapun.

X adalah simbol segala sesuatu yang misterius. Berada diluar pengetahuan kita, ia bersemayam di alam yang senyap, sendirian. Ia merepresentasikan segala hal yang
sifatnya tidak pasti, kemungkinan yang lain, tak terjelaskan, gaib. Ia bisa bersifat penambah, pengurang, pembagi dan pengali yang sulit dihitung. Kemunculan dan ukurannya tak bisa diduga.

Beberapa akan menyebutnya : LUCK atau BAD LUCK !. Tapi seperti sifat elemen-elemen buatan Tuhan yang lain : Ia hanya datang pada saat yang tepat.

Karena sifatnya yang opportunistik si faktor X ini bisa membuat seseorang yang tadinya pemberani menjadi sangat pengecut, atau malah jadi pemberani sekalian tergantung dari arah mana menjalaninya. Si X ini mengerem segala congkak kalkulasi untung rugi, lalu menghasilkan pasrah dan santun. Si X ini pula yang mengobarkan semangat juang para pesimis untuk hayo maju sekalian, lalu di akhir juga menghasilkan santun dan pasrah pada ketentuan Tuhan.

Belajar paham faktor X ini berarti belajar hidup di daerah keseimbangan. Kita tak jadi fatalis melihat hidup, bukan karena terus gagal lalu berpikir semua selesai sudah , no ! Biarkan diri kita melihat sejauh mana faktor X ini bekerja di hidup ini, memberinya kesempatan kedua, ketiga, keempat dan kesekian kalinya. Just give it a try, another shoot to see how far life can bring us !

Saya mengajak anda untuk tidak takut, mengajak anda untuk jadi pemberani sekalian. Dan kalo selama ini saya mengajak anda, maka ajakan itu pertama-tama berlaku untuk diri sendiri.

Saya tidak tahu seberapa sempit jalan untuk dilalui, seberapa dalam kolam berlumut yang kelihatannya mengerikan itu dan tak tahu faktor X apa yang sedang menunggu disana. Tapi haruskah diam ?.

Dalam keseharian kita yang sangat biasa-biasa saja, dimana tautan masalah berupa-rupa, datang dan pergi. Semua bisa tampak sangat gamang, sempit dan sulit dilewati. Tapi lewatilah, hadapi saja. Melakukan yang harus dilakukan. Jika memang itu satu-satunya jalan dimana bahagia menunggu kita .. Ayo jangan takut !

Jumat, 06 Maret 2009

You Gotta Be... !



Yess! Kita hanya akan jadi kuat setelah melewati hal terjelek, kejadian terparah, hidup ter "suck". Tidak usah takut anda mungkin jadi terlihat buruk. Tapi "kulit" anda akan lebih keras, "apa yang ada didalam" akan lebih kuat lagi..

Oh C' mon, untuk hari ini bergembiralah bersama lagu dari Desree (tetangga saya suka bilang de'sri, mungkin dia pikir orang jawa kali ya), klik saja bar disebelah kanan anda . Ya yang itu, "the most stronger lyric ever".

Begitu banyak lagu yang punya lirik sangat kuat dan ini salah satu favorit saya. Tiap mendengar lagu ini saya jadi ingat kalo saya masih punya Satu hari untuk dihadapi, Satu hari dimana kepala saya tidak boleh tunduk, dan menantang masa depan yang penuh kemungkinan, Satu hari dimana hidup dirayakan dengan suka cita, oh come on ! putar musik favorit itu dan lepaskan segalanya, sebab hari ini milik anda, jam ini, detik ini. Ya tentu saja selalu milik anda.

Lagu "you gotta be" menginspirasi saya yang penakut abis, pesimis abis. Ceritanya satu saat saya melihat sebuah kesempatan utk mendapatkan apa yang saya inginkan, katakanlah pekerjaan impian, karena berasal dari PTS biasa saya sempat down. Tapi saya coba saja mengirim aplikasi, lama berselang akhirnya dapat panggilan test di FEUI Depok.

Saya luar biasa senangnya dan benar-benar tak menyangka (kalo mungkin saya akan numpeng utk selamatan hahaha). Dan begitu datang ke FEUI. anjrit ! busyet! gilaa ! 300-450 an peserta dan rata2 para lulusan universitas "top of the top of this country" saat itu sempat down lagi tapi saya yakin saja. Dan untuk menghilangkan gugup saya koleksi no hp para saingan saya itu, dan Alhamdulillah sampai saat ini kami masih berhubungan baik.

Dan keyakinan saya terbukti benar: saya benar-benar gagal..! haha. Tapi saya senang dapat kesempatan ini. Satu pelajaran lagi.

Setelah tanya sana sini, ternyata mereka juga sama dag dig dug nya, sama gugupnya, sama tak yakinnya.

Pulang kerumah, down karena gagal, saya dengerin lagu ini berkali kali. Semangat saya bangkit lagi, meski entah kapan saya bisa dapat pekerjaan impian...haha.. keep looking man !

Ah setidaknya saya bisa nambah teman. Bila satu pintu tertutup artinya tiga juta pintu telah terbuka, betul tidak ?. Lagi pula saya masih bisa coba lagi tahun depan.

Saya harap anda pun pun punya lagu anda sendiri, soundtrak pribadi yang akan membuat anda tersenyum sepahit apapun, tertawa meski hati berat, lapang meski dari "dalam" berdarah-darah dan mungkin mengubah hidup anda dari si pesimis jadi si optimis !.

Tapi untuk sekarang, saya paksa anda bernyanyi bersama artis hitam manis kesayangan saya, Desree

".....You gotta be bad, you gotta be bold
You gotta be wiser, you gotta be hard
You gotta be tough, you gotta be stronger
You gotta be cool, you gotta be calm
You gotta stay together
All I know, all I know, love will save the day..."

Ya berdendanglah, Rayakan hidup anda !

Sekaraaaang !

Selasa, 03 Maret 2009

Jawablah Aku !




Malam ini saya baca majalah tarbawi kesukaan saya, saya mengenal majalah ini sejak tahun 2002 an. Awalnya sih gak suka, maklum dikasih DKM sebagai kenang-kenangan. Seperti segala sesuatu yang gratis saya sering lupa kalo justru yg gratis2 itulah yang membuat saya masih hidup, majalah teronggok begitu saja selama berbulan-bulan, hamnpir masuk tong sampah karena membaca bukan prioritas saya saat itu, sampai di hari minggu yang menyebalkan karena kamar sudah sumpek, akhirnya terbacalah majalah itu. Sekarang malah suka beli dan tulisan ini banyak terinspirasi dari sana. Saya ingat penulisnya Ahmad zairofi CS selalu mengena kalo sudah bikin tulisan yang "menggoyang" akal pikiran dan hati.

Untuk edisi maret 2009 ini judulnya "anak-anak juara yang menyejukan jiwa". Saya tersentuh sekali membaca anak-anak berprestasi ini, salah satunya kisah Adi Priyatna, pemulung yang berprestasi. Bagaimana ia mengais ais sampah, adik-adiknya menjadi pembantu tapi mereka tetap sekolah. Tapi satu hal yang membuat saya takjub saat melihat fotonya : tak ada seguratpun rasa malu diwajahnya karena pekerjaan pulung memulung sampah ini. Hanya lelah namun lelahnya diselubungi rasa bangga.

Ya, pekerjaan, status, materi,wajah sekalipun atau apapun ternyata tidak menentukan siapa dirinya, apa yang kita pakai apa yang kita makan apa yang kita capai apa yang... apa yang ... tidak ada sesuatupun yang menentukan diri kita. Lalu apa ?.

Dalam pandangan-Nya Yang Maha Suci, Yang Maha Mutlak, Allah Ta A'la tersimpan segala rahasia kehidupan, segala kelahiran, kematian, suka duka, rezeki dan pasangan hidup setiap makhluk, dalam kitab-Nya yang nyata tertulis segalanya. Sampai helai daun kering yang ada ditengah hutan tergelap pun telah diketahui dan tertulis. Dan kita hanya menjalani apa yang telah tertulis di buku rahasia. Ya kita hanya berperan sesuai yang sudah tertulis disana. Tapi pertanyaannya apa peran kita ? apa yang sedang kita lakoni ini ?

Jika diri kitapun masih rahasia yang harus diungkap lalu bagaimana menemukannya? ya bertanyalah terus, bertanyalah !

siapa anda ? sedang berperan sebagai apakah ? kenapa berperan begitu ?

Bagusnya rahasia, adalah kita tak pernah benar2 tahu dan tidak pernah bisa memastikan akhir segala sesuatu ! well apa artinya ?

Artinya Tuhan memberi pilihan. memilih peran apapun sesuka kita.

Tapi siapa sih anda sebetulnya ?

Tepat dimana anda berada anda adalah orang baik. Ketika sedang mengantri di mall, ketika makan di KFC, ketika nonton bioskop, ketika sedang takzim di mesjid atau sedang memasak dirumah. Dalam profesi misal sebagai pemulung sampah pun seperti Adi di atas, anda tetap orang baik. Meski dunia tidak sempurna kita masih memilih yang sempurna buat diri kita : Jadi orang baik!

"hey buta ! lihat didepanmu ada lubang !"
"hey miskin lihat sampah itu, itu rezekimu !"

Orang buta dan orang miskin atau representasi apapun, mereka sejak lama sudah sadar diri mereka buta dan miskin, tapi ucapan sekeji itu tak akan keluar dari mulut kita.

Jelas bukan perbuatan kita yang membuat orang jadi sedih dan terluka, demi Tuhan itu bukan kita yang menyebar berita tidak benar. Juga bukan kita yang membunuh karakter teman sendiri demi promosi. Hal-hal semacam itu jauh dari hati kita

Dunia boleh berubah, boleh kejam, boleh bunuh-bunuhan, tapi bukan kita pelakunya. Karena kita sudah memutuskan jadi orang baik dan seiring berjalannya waktu kita akan menyadari ternyata peran kita yang tertulis di buku suci itu adalah pilihan kita sendiri.

Mungkin rezeki kita "segini aja" tapi bukankah itu tak bisa jadi ukuran yang menentukan siapa kita sebenarnya ?
Mungkin dibanding beberapa teman, kita tetap paling payah. tapi apa itu juga pantas jadi ukuran ?

Lalu apa ? apa yang menentukan siapa ? siapa menentukan siapa ?

HATI.

sebab ia berada di alam rahasia, tak nampak tapi memancar, tersembunyi tapi menentukan, dan konon dengan kasih sayang mereka-mereka yang masih punya hatilah yang membuat Tuhan berat menurunkan cobaan dalam bentuk pelajaran sekalipun. Ia getar terhalus, bisikan paling terdalam dan makhluk yang bercakap-cakap langsung dengan Penciptanya. Ia jujur sehingga pindah ke London atau Antartika pun ia akan mengatakan yang se jujur-jujurnya.


Mungkin suatu saat ada yang bertanya ke anda ?

"emangnya LOE siapa ?

Lalu dengan gagah, ANDA si orang baik itu berdiri, tersenyum dan lantang menjawab

"ini gue, ORANG BAIK!, sekarang jawablah aku,

kamu siapa ?"


Maka kita doakan semoga selalu berbahagia orang-orang baik, semoga mereka bangga dalam berbagai representasi ataupun profesinya.

Kamis, 26 Februari 2009

PS: Cinta Menunggu di Rumah



Salah satu keunggulan dilahirkan di zaman ini adalah mudahnya akses informasi. Dalam satu hari ini saja saya sudah baca dua kecelakaan pesawat terbang. Dan yang tadi saya saksikan saat pulang kerja adalah dua buah kecelakaan mobil. Hari sabtu sebelumnya masih di sepanjang ruas tol yang sama, dua kecelakaan terjadi lagi salah satunya mobil sedan yang terjun bebas ke areal pesawahan. Wow ada apa ini ?

Sebagai orang yang nyaris "death" saya seperti dejavu. Dan tiap melihat, mendengar atau membaca yang topiknya kecelakaan saya suka parno.

Di akhir tahun 2003 saya dan beberapa teman menumpang mobil Avanza. Dari serang, kami berenam melesat ke arah Bandung. Hari itu kami berniat menghadiri pernikahan seorang rekan kerja kami. Saya ingat pagi itu jalan begitu lengang, udara masih sangat sejuk, kita sengaja berangkat pagi sekali untuk menghindari kemacetan dari arah Jakarta.

Baru kira2 lima menit kita jalan, dari arah berlawanan sebuah truk yang mengangkut bilah-bilah baja berat terlihat oleng, dalam jarak yang lumayan dekat tiba2 terdengar bunyi letusan yang keras, Duarr!. Teman saya langsung menginjak gas, dalam tempo sepersekian detik ia berusaha menghindari truk oleng yang melewati pembatas jalan tersebut. Alhamdulillah kami lolos. Tapi dari belakang, dengan mata kepala saya sendiri saya melihat truk yang massanya besar dan kecepatan tinggi langsung menghantam sebuah bis karyawan yang saat itu sedang penuh-penuhnya. Tujuh orang tewas seketika.

Kami yang dari awal perjalanan bercanda tak karuan mendadak diam, tak satupun bicara dalam hati kami masing2 sangat bersyukur sekaligus prihatin atas kejadian pagi naas itu. Obrolan pun berganti, dengan suara pelan kami berandai-andai jika saja terlambat maka lewatlah sudah. Dan jika "lewat" begitu maka ...

Saat itu saya baru sadar. Seandainya hanya diberi waktu beberapa detik saja sebelum mati menjemput, apakah yang paling saya inginkan ? dan jawabannya tidak mengagetkan.

Didepan kematian yang temponya sepersekian detik dan jaraknya sepersekian meter itu segala ambisi ingin punya ini-itu hilang sudah. Di depan kematian, apa yang pernah saya banggakan luntur sudah, apa yang telah lewat/luput dari saya dan apa yang saya raih semua tak ada artinya. Bahkan segala kebencian, segala penyesalan, segala dendam habis sudah. Jika saya hanya punya waktu beberapa detik saja atau kesempatan kedua melanjutkan hidup, saya hanya ingin jadi orang yang lebih baik, just to be a better man !.

Demi Tuhan ternyata saya sangat tidak siap dan mungkin sampai hari ini tak pernah siap jika harus mengalami yang namanya mati, maka betapa Maha Bijaksana nya Tuhan dengan merahasiakan kematian seseorang.

Sewaktu ibu kita melahirkan kita, secara otomatis kita adalah milik orang tua, gedean dikit kita adalah milik masyarakat sebab segala aturan dan hukum bermasyarakat berlaku atas diri kita, disana kita adalah milik para teman dan para sahabat dan tetangga. Lalu bila kita sudah berkeluarga kita adalah milik suami atau istri dan anak anak kita. "KITA" yang saya maksud berarti manusia secara keseluruhan alias semua orang. secara universal, baik ortu, teman, sahabat, keluarga handai taulan. mereka adalah bagian dari hidup kita yang berprinsip hampir sama : mereka hanya menginginkan hanya hal-hal baik saja yang menimpa diri kita.

Dalam konteks, banyaknya orang yang begitu memperhatikan dan menyayangi sekaligus mendoakan kita itu seharusnya sense kita utk mencintai diri sendiri lebih besar dari mereka.

Be hold !, betapa berartinya keberadaan kita disisi mereka ! anda mungkin tak merasakannya karena senyuman sudah merupakan santapan tiap menit hidup anda. Saking seringnya meremehkan diri sendiri kadang kita tidak menyadari bahwa kita bukan lah manusia remeh temeh dimata orang-orang terdekat kita.

Oleh sebab itu saya mengajak pembaca untuk lebih menyayangi diri sendiri terutama jika sedang berkendara. Boleh jadi profesi anda sopir truk, pengemudi taksi, atau pemilik mobil pribadi, pengendara motor sepeda bahkan pejalan kaki sekalipun. Saya berharap anda aware terhadap diri sendiri, sehingga tak ada lagi mobil jungkar-jungkir di tol.

Lihat saja ! banyak cinta menunggu dirumah, bukankah dengan datang utuh sampai rumah kita bisa mewujudkan satu cita-cita lagi : to be a better man/woman ! sebelum kematian yang jarak dan waktunya unknown itu datang.

Sabtu, 14 Februari 2009

Pilihan Dan Ketetapan



Beberapa waktu lalu kerabat saya mengangkat seorang anak yang masih bayi. Saat itu sang bayi terpaksa dilarikan ke rumah sakit karena masalah pencernaan, ketika saya datang jarum infus menancap dilengan mungilnya yang rapuh, tiap bangun tidur bayi laki-laki berusia 6 bulan itu tak mau lepas dari gendongan, tiap akan di tidurkan ia selalu menangis makin lama makin kenceng, akhirnya kami berenam yang ada di rumah sakit sepakat untuk gantian menggendongnya.

"Kasihan, orang tuanya sudah tidak bekerja. Anaknya banyak, usia sekolah pula, mereka tak sanggup beli susu, dia hanya dititipkan ke tetangga sedang orang tuanya kalang kabut cari uang. Tetangganya juga udah nyerah tak sanggup lagi karena mereka juga banyak anak dan penghasilannya cuma dari warung, bayi itu jarang di gendong, jarang diajak main" cerita kerabatku sambil sesenggukan, airmatanya meleleh perlahan. Matanya cekung karena kurang tidur, selain dia juga sedang sakit.

Rupanya itu yang menyebabkan sang bayi tak mau lepas dari gendongan. Diam-diam entah kenapa dalam hati saya ada semacam rasa sakit yang susah diurai. Menusuk ke ulu hati, kadang seperti menonjok-nonjok dan itu cukup membungkam saya seharian. Di RS kami "keluarga" nya yang baru menungguinya selama seminggu, gantian menggendong, menjaga, mengajaknya bermain.

Ada sesuatu disana. Mata yang polos, senderannya yang hangat, tawanya yang lepas. Rasanya melegakan merasakan lagi sesuatu yang tak bersyarat. Saat berlelah-lelah karena kurang tidur. Saat berdoa, kami baru sadar bahwa kami sudah jatuh cinta padanya, dan betapa menyenangkannya saat2 itu. Saat dimana cinta sudah tak dipusingkan oleh urusan pilih memilih.

Jika ada satu hak yang paling dasar yang diberikan Tuhan ke manusia, pastilah itu adalah kebebasan untuk memilih. Dalam hidup, urusan pilih memilih adalah hal biasa. Beberapa kategori/pilihan ditimbang-timbang, dihitung, dipikir lalu diputuskan dengan harapan itulah yang terbaik.

Namun ternyata banyak hal yang ada di diri kita juga bukan hasil pilih memilih, nego, tawar menawar, pesen dulu atau lobi-lobi dengan Yang Diatas.

Bayi kerabat saya itu contohnya. Dia tak memilih hendak dilahirkan dimana, sukunya apa, wni apa bule, dari rahim ibu yang mana, atau ayah dengan jabatan apa yang hartanya se gimana. Kelahirannya di tengah situasi yang berat tentu bukan salah hitung. Terlahir agak kurus pastinya bukan karena gagal nego. Kurang terurus juga bukan karena telat ngurus absen saat ngelobi. Jika sekarang terbaring di RS juga bukan karena gagal nawar.

Bukan tawar-menawar ini akan dirasakan sangat kuat bagi teman-teman penyandang cacat dan para sahabat yang di beri "old soul". Untuk pertama kali saat menyadari ada yang berbeda dalam dirinya. Banyak pertanyaan kenapa terlahir begini begitu, lalu di akhir menyadari apa yang di sandangnya bukanlah hasil "pesan dulu" ke Tuhan, tapi saya yakin perlindungan Tuhan buat mereka amat sangat sempurna.

Sekarang saya ingin mengajak pembaca menghargai pilihan-pilihan yang dimiliki, juga mengajak menerima hal-hal yang sudah merupakan ketetapan kita, kepastian, kemelekatan yang sudah merupakan 'kehendak' Sang Khalik Yang Maha Adil. Tidak terlalu berbangga diri atas hasil pilihan kita -yang menyenangkan dan indah itu. Juga tidak terlalu sedih dengan apa yang sudah terjadi.

Posisi anda sekarang sudah ada ditengah.

Pilihan yang disodorkan dan ketetapan yang mengikat itu adalah 'sudah demikian adanya', dan semua tentu ada maksudnya

Mau berusaha atau tidak itu pilihan, hasilnya ketetapan...
Pernah gegar otak itu ketetapan. Mau Belajar atau tidak itu pilihan.
Sariawan di mulut di lima tempat itu ketetapan. Makan soto atau sop kambing itu pilihan.
Menggunakan sepeda motor itu pilihan. Kena tilang itu ketetapan.
Mencintai itu pilihan. Kepada siapa orangnya itu ketetapan.

Tetapi. Memutuskan berbahagia di setiap saat dan disegala situasi lalu memberi yang terbaik dan sebagainya (.....isi sendirilah). Selamanya itu adalah pilihan anda.

Hak penuh anda yang tak seorangpun berhak merintangi atau menghalang-halangi.

Selasa, 03 Februari 2009

Buminya dipijak, Langitnya dijunjung, Alamnya di sayang



Banjir dan banjir lagi, selain berlangganan majalah, pulsa HP, warnet dsb..dsb kita juga langganan banjir dan semakin kesini semakin gak main-main. Bencana kali ini terhitung luar biasa, banjir menggenang berbagai lokasi-lokasi pemukiman, pesawahan, sentra industri, perdagangan, sekolah-sekolah, kampus-kampus yang dihuni para mahasiswi cantik, gedung perkantoran dan berbagai fasilitas umum yang biasa kita sambangi. Ikutannya banyak juga, seperti longsor, hujan deras sejadi-jadinya yang tak tentu, angin topan, badai di lautan, magnet laut yang ganas seperti di Majene. Bencana datang begitu bertubi-tubi.

Alam ini layaknya penari agung super maestro yang tanpa lelah berputar, bergerak dan bergetar. Namun kali ini yang kita lihat seperti gerakan orang marah yang energi-energinya tertumpah ruah tanpa kendali. Ia seperti hendak bicara tapi tertahan, ingin menyapa tapi sungkan. Wahai apa gerangan yang membuat alam ini demikian gelisah ?.

Alam yang kita kenal ini punya "Nama", "Ruh/nyawa" dan "Kehidupan". Ia tunduk pada hukum-hukum dasar yang telah di tetapkan Pencipta untuknya. Ia didesain sedemikian apik untuk memenuhi hajat hidup manusia yang memijaknya. Karena butuh makan tanahnya dicangkuli, di bajak, semuanya dieksplor habis-habisan. Lautnya dikeruk, ikannya dinikmati, mutiara-mutiaranya dijadikan hiasan, dan diambil segala keindahannya. Langitnya dipenuhi deretan frekuensi radio yang memungkinkan kita mendengar merdunya nyayian Beyonce Knowles, melihat indahnya paras selebriti, jernihnya selular dan cepatnya koneksi internet.

Semua yang berasal dari alam ini di eksploitasi habis-habisan. Tapi inilah hebatnya. Beberapa dari kita lupa menanam setelah menebang, lupa mendaur ulang sehabis menggunakan, lupa melakukan perbaikan setelah giat nyedot minyak dan gas yang mahal itu. Beberapa dari kita lupa memberi setelah menerima begitu banyak. Lupa berterima kasih pada alam yang merupakan titipan Tuhan.

Yang lebih parah beberapa dari kita, lupa menyelamatkan alam, lupa bahwa komposlah penyubur tanah, bukan darah manusia.

Semua yang ada di bumi ini terdiri atas molekul-molekul dan atom atom yang "hidup", bergerak dan bergetar. Banyak penelitian membuktikan bahwa tanaman yang sering diajak bicara pemiliknya akan tumbuh lebih sempurna dari pada yang disiram sekedarnya. Air yang kita konsumsi ini ternyata menyimpan memori dan emosi (masaru emoto, gramedia). dan akan banyak lagi yang membuktikan bahwa alam pun mengerti bahasa kasih. Ia merespon apa yang kita pikirkan, bergerak menyesuaikan diri dengan apa yang kita lakukan, alam ini luarbiasa cerdasnya dan kita hanya perlu "menyimak".

Menyimak tanda-tanda alam yang mulai menjerit meminta kita berhenti berbuat semaunya. Alam ini telah, akan dan siap mencukupi semua kebutuhan manusia di bumi ini kecuali.. keserakahan nya. Lalu apakah akan kita biarkan alam ini memenuhi takdirnya : makin lama makin ganas ?, apakah akan kita biarkan ia berjalan sendirian ditengah keserakahan dan rasa iri?.

Untuk beberapa pertanyaan ini rasanya kita tak boleh tinggal diam. Saya mengajak pembaca untuk memahami alam yang mulai marah, kita mulai dari hal yang paling kecil untuk mencintainya. Anda pembaca yang hebat tentu sangat paham berbagai upaya melestarikan alam kita, mari menanam kembali, mari perbaiki yang rusak, mari menghimbau mereka-mereka yang berbuat kerusakan agar berhenti sekarang juga, mari mencintai lagi Tanah, Udara, Air, Alam kita ini untuk kehidupan yang lebih baik.

Sebab alam ini sedang membutuhkan orang-orang yang berkarakter yang mau peduli padanya, lalu siapa lagi kalo bukan : Anda